Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2021

Jalan Takdir Aina (7)

Gambar
Setelah bertanya kepada rekan-rekan guru yang ada di ruangan ini, ternyata mereka juga tidak ada yang tahu asal muasal coklat dan bunga yang berada di atas mejaku tadi. Ah, mungkin saja ada yang lupa naruh, sehingga aku membiarkan benda itu tetap tergeletak di meja. Kali saja, si empunya nanti nyariin. Teng ... teng ... teng! Lonceng tanda masuk jam pelajaran sudah berbunyi, aku segera memasuki kelas. Sesampainya di sana, anak-anak sudah duduk dengan rapi di tempatnya masing-masing.  Ah, indahnya pemandangan ini. Jadi ingat, dulu waktu SD, Pak Yatno–wali kelasku tidak akan memulai pembelajaran, jika murid-muridnya belum berpakaian rapi dan duduk di kursi masing-masing. Sebelum memulai pelajaran, kami membaca doa bersama-sama agar senantiasa diberikan kelancaran dan keberkahan dalam mencari ilmu di pagi hari ini. Pembelajaran kali ini, mengenai sedekah. Suatu kebahagiaan, karena mereka terlihat sangat antusias sekali dalam menyimak pembelajaran yang telah kujelaskan. Beb...

Jalan Takdir Aina (6)

Gambar
Setelah menghabiskan dua porsi nasi goreng dan satu porsi batagor, Mas Kurir mengantarkanku pulang. Entah kenapa, suasananya malah menjadi begitu canggung di bandingkan sebelumnya. Mas Kurir memutar lagu To The Bone sebagai pemecah keheningan malam ini. Tak terasa, kami sudah sampai di rumah. Setelah mengucapkan terima kasih, aku pun pamit masuk ke rumah, udah malem juga kan ya. "Tunggu dulu, Ai, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ujarnya sembari menggenggam tanganku. Aku secepat kilat melepaskan genggamannya. "Belum mahrom, Mas, kalau mau pegang-pegang halalin dulu," jawabku dengan cengengesan. "Mau ngomong apa, Mas?" Lanjutku. "Ya udah, ayok nikah aja kalau gitu," lontarnya seraya menatapku. Aku bengong, menatapnya tak percaya, " Prank nih, pasti," ujarku untuk menutupi kegugupan. "Aku serius, Ai. Nggak becanda. Kalau kamu mau, besok aku bakal bawa keluargaku untuk melamar kamu." Oksigen mana, oksigen? Kayakny...

Jalan Takdir Aina (5)

Gambar
Walaupun bentukanku yang pecicilan kayak begini, kata Mami, aku termasuk penyayang anak-anak. Buktinya, mereka semua baik dan nurut sama aku. Bukan karena terpaksa juga, loh, ya. Di sela-sela mengajari ngaji, aku melihat ada mobil yang memasuki rumahku. Tumben sekali. Kira-kira siapa, ya, yang bertamu sore-sore begini. Jangan-jangan, ada yang mau ngapelin Mami lagi? Ah, beginilah nasibnya, kalau lebih cantikan emaknya dibandingkan dengan anaknya. Serius, Gaess, Mami itu banyak yang naksir. Mulai dari orang biasa hingga pejabat ditolak sama Mami. Pernah suatu kali, aku menyuruh Mami untuk menikah lagi, karena kasihan, biar ada temen buat bertukar cerita selain sama aku. Tapi ujung-ujungnya malah dimarahin. Mami itu memiliki prinsip yang kuat. Menurutnya, menikah hanya dilakukan satu kali dalam seumur hidup. Setelah bercerai, Mami nggak mau mikirin soal menikah lagi, pengennya fokus ngasih kehidupan yang terbaik buat aku.  Banyak hal yang udah dilakuin sama Mami, yang mun...

Dalam Cerpen "Setelah Para Tetua Pergi"

Gambar
Tantangan pada pekan ke empat dalam Komunitas One Day One Post kali ini, saya rasa lumayan berat, karena harus memberikan sebuah opini tentang cerita pendek yang sudah kita pilih. Dari dua pilihan cerita pendek yang disuguhkan, saya memilih cerita pendek yang berjudul "Setelah Para Tetua Pergi" karya dari Achmad Ikhtiar. Tetua merupakan salah seorang tokoh yang dihormati dan disegani pada masanya. Tidak ada seorang pun yang berani membantah titahnya tetua tersebut. Akan tetapi, waktu demi waktu yang kian bergulir, masa itu pasti akan datang. Seperti yang sudah tertulis di buku nubuat ribuan tahun lalu. Entah apa yang dimaksud tentang 'waktunya sudah hampir datang' itu, tetapi saya menangkap bahwasannya harus ada sebuah pengorbanan di sini. Pengorbanan agar tempat yang disebut 'rumah' ini tetap terasa nyaman.  Hingga waktu itu telah tiba, saat mereka diminta untuk menanggalkan pakaian dan pulang ke rumah, lalu diikuti dengan menghilangnya para Tetua...

Jalan Takdir Aina (4)

Gambar
Jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Aku pun bergegas untuk berangkat ke sekolah, aku tidak mau meninggalkan kesan buruk karena terlambat masuk sebab ini baru pertama kalinya mengajar. Jarak dari rumah ke sekolah cukup dekat. Hanya sekitar sepuluh menit saja dengan mengendarai motor butut kesayanganku. Kesan pertama saat mengajar di kelas untuk pertama kalinya, cukup mengasyikkan. Berbagai macam karakter anak, membuatku harus cukup sabar dalam menghadapinya. "Aina, kamu ngajar di sini juga?" tanya Mas Panji saat aku berada di ruang guru. "Eh, Mas Panjul. Iya, Mas, ini baru hari pertama ngajar," jelasku. "Panji, Ai, bukan Panjul," jelasnya diiringi sebuah senyuman, sehingga menampakkan gigi gingsulnya. Manis juga, kalau dilihat-lihat *eh! "Kenapa nggak bales chatku?" Tanyanya lagi. "Em, anu, itu, Mas," ucapku sambil menggaruk kepala yang tak gatal. "Belum sempat, tadi malam juga ketiduran," jelasku. "Kamu lucu, A...

Dasar, Gagal Move On!

Gambar
Oh, mengapakah kau tinggalkan aku seperti ini? Saat aku masih berharap Cinta ini masih bertahan untuk kita Oh, mengapakah kau membawa semua kenangan indah bersama kita dulu? Kini berakhir untuk selamanya Lagu Judika yang bejudul Tak Mungkin Bersama, ternyata masih menjadi lagu favorit yang sering kuputar, pasca diputuskan sebelah pihak oleh calon suamiku. "Orang tuh ya, kalau galau biasanya pada dengerin atau nonton yang berbau-bau ceria, biar suasana hati juga ikut happy . Move on , Sya, lelaki nggak cuma dia doang!" omel Rani–sahabatku yang sangat memekakkan. Aku menutup telinga dengan kedua tangan. "Eh, Sya, mau nggak gua kenalin sama temen gua. Kali aja cocok gitu. Mau ,ya?" Pintanya dengan memohon. Beberapa hari terakhir, Rani memang gencar banget jadi Mak Comblang. Tetapi, oh tidak ... aku belum ana niat sedikitpun membuka hati untuk orang baru.  "Sebelumnya makasih, ya, Ran, tapi sorry banget, dalam waktu dekat ini, gua belum bisa...

Sedu

Gambar
Adakah yang lebih menyakitkan dari berpisah dengan satu-satunya orang yang kamu miliki di dunia ini? *** "Nduk, barang apa aja ini yang mau dibawa? Biar Emak masukkan ke dalam tas," ucap Emak sambil memilah-milah bajuku dalam lemari. "Mak ... tapi Nina nggak mau ninggalin Emak sendirian di sini," ujarku dengan linangan air mata. " Uwes to ... Emak tu ndak pa-pa. Lagi pula di sini Emak nggak sendiri. Ada Bu Dhe Sri yang bisa dimintai bantuan kalau ada apa-apa." Emak memelukku erat, meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. "Tetapi ingatlah ... kehidupan di kota tak seenak yang dibayangkan orang-orang, Nduk. Jadilah anak yang baik, yang santun, dan sesibuk apapun kamu di sana jangan lupa untuk mengaji ya," lanjutnya sambil mengelus kepalaku. "Iya, Mak. Nina janji bakal jadi anak yang baik. Doain Nina ya ... supaya sukses. Biar bisa berangkatin Emak Ke Makkah." "Aamiiin...." Emak membantuku mengemas barang-ba...

Ketika Takdir Menyapa

Gambar
Setiap bakda subuh terdengar sayup-sayup para santri melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an di setiap penjuru ruangan. Di sinilah para santri dari pelosok negeri menimba ilmu. Selain belajar mengaji di Pondok, ada juga santri yang menempuh pendidikan umum, mulai dari sekolah dasar hingga bangku perkuliahan. Namaku Alina Fadhila, takdir yang membawaku ke penjara suci ini. Banyak pelajaran hidup yang aku temui, mulai dari disiplin, hidup hemat, hingga rindu yang tak terbendung untuk kedua orang tua. Beruntung, di sini aku mempunyai sahabat yang selalu menghibur. Namanya Alisha, gadis yang selalu ceria seakan tak pernah dirundung lara. Di sini semua sama. Hidup jauh dari keluarga. Setahun hanya bisa pulang dua hingga tiga kali saja, saat libur sekolah dan hari raya tiba. Kejam? tidak. Itu sudah menjadi konsekwensi kami ketika pertama kali menginjakkan kaki di Pondok Pesantren. "Eh, Lin iku lho, Kang seng wingi nitip salam kanggo awakmu," tunjuk Lisa pada Kang P...

Nasi Berkat (2)

Gambar
"Dek, Maaf ya, Mas baru bisa ngasih segini," ujar Mas Arman sambil menyodorkan beberapa lembar uang berwarna biru. "Iya, Mas, ndak papa. Rezeki kita baru segini. Disyukuri aja," jawabku, lalu menyimpan uang itu di dompet. Mas Arman merebahkan diri di kasur tipis, hadiah pernikahan dua tahun silam. Aku pun memijit pundaknya, agar otot-ototnya sedikit melemas. "Ya Allah, Mas, badanmu kok panas. Kalau sakit itu mbok ya bilang. Ayo, pergi ke dokter!" ajakku. "Nggak usah, Dek, nggak papa. Ini cuma masuk angin biasa. Ntar dipijit juga sembuh." Mas Arman ini memang keras kepala. Selalu saja terlihat tegar di depan kami, walaupun kenyataannya sering sebaliknya. Pintaku pun tak diindahkan. Walhasil, sebagai penawar rasa sakitnya, aku membelikannya obat di warung Mak Ijah. "Beli apa, Tin?" "Beli Ant*ngin, beras 5 kg, dan telur 1 kg, ya, Mak," jawabku. Mak Ijah pun dengan sigap menyiapkan pesananku. "Tumben b...

Jalan Takdir Aina (3)

Gambar
"Duh ... kalau jalan lihat-lihat, dong! Saya jadi jatuh, 'kan!" omelku pada seseorang yang menabrakku tadi. "Lhah, salah Mbaknya tadi pakai ngalamun di tengah jalan, jadinya ketabrak, deh," sanggahnya. Niat hati ingin olahraga, biar punya body goals kayak Syahrini, malah ditabrak orang. Mana orangnya nggak mau disalahin lagi. Padahal tahu sendiri kan, kalau wanita itu selalu benar! Ya, nggak? Ha-ha-ha. Kalaupun mau ngomel-ngomel pun juga sia-sia. Habis tenagaku nanti. Mendingan, aku sarapan sotonya Mang Ujang aja, deh. Buat amunisi pagi ini. "Eh, Mbak, Mbak, tunggu dulu." "Ada apa lagi, sih, Mas. Lagian saya nggak minta tanggung jawab juga, kok. Udah ah, minggir, saya laper nih," jelasku pada Mas yang nabrak tadi. "Ayo kita obatin dulu kakimu. Nanti infeksi, loh." "Udah, nggak papa ini mah. Cuma lecet dikit doang." "Ya sudah, sebagai permintaan maaf saya, mau nggak kalau saya traktir kamu makan?" Aku...

Rindu Ibu

Gambar
Sentuhan hangat yang dulu ku acuhkan Rentetan nasehat yang selalu ku abaikan Bahkan, ocehan yang sangat memekakkan Kini menjadi hal yang sangat ku rindukan Ia sosok yang tak pernah mengeluh  Meskipun dibanjiri peluh  Tak pernah menampakkan kesedihan Meskipun diterpa cobaan Tak pernah putus asa Meskipun keadaan sedang tak baik-baik saja.  Ibu....  Maafkan anakmu ini yang tak pernah mengerti Maafkan anakmu ini yang belum sempat berbakti Yang selalu membantah tanpa sedikitpun celah Yang kerap egois dengan senjata tangis Ibu....  Aku merindukanmu Andaikan waktu bisa diputar kembali Aku takkan mengulangi kesalahan yang sama lagi Blora, 19 September 2021

Jalan Takdir Aina (2)

Gambar
Lantunan ayat-ayat suci dari musholla depan gang rumahku menggema. Setiap bakda salat asar, anak-anak komplek akan mengaji di situ. Sudah sebulan ini, aku diminta Ummi Hanif untuk mengajar anak-anak, setelah Mbak Lathifah–anak ummi diboyong oleh suaminya ke negeri seberang. Setelah selesai mengaji, aku membiasakan agar anak-anak membereskan tempat terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Agar semuanya tampak bersih dan rapi seperti sedia kala.  Sesampainya di halaman rumah, terlihat Mami lagi ngobrol sama someone di ruang tamu, yang tak lain dan tak bukan adalah Mas Kurir! "Assalamualaikum, Anak Shalihah pulang, Mom," ucapku seraya mencium tangan Mami. "Belum halal, Neng. Jangan cium-cium," cegah Mami, saat aku spontan mau mencium tangan Mas Kurir juga. Dasar, tangan nggak bisa diem juga, kalau lihat yang bening-bening mah. Astagfirullah.  "Ya udah, Mami tinggal ke dapur dulu, ya, takut nasinya gosong, karena dicuekin," pamit Mami. "Itu m...

Jalan Takdir Aina (1)

Gambar
"Permisi ... pakeeet!" teriak Mas Kurir. "Ashiaaap," jawabku sambil membukakan pintu rumah. Aku pun menerima paket itu dengan senang hati. Mas Kurir pun memfotonya sebagai tanda bukti. Masa bodoh lah, sama penampilanku yang awut-awutan. Salah sendiri, pas aku lagi dandan cantik, dia nggak datang. Eh, giliran pas lagi burik, dia datang. Kan kasihan, kalau ada yang sawan pas ngelihat foto penampakanku sewaktu nerima paket. Aku pun membukanya. Akhirnya ... penantian selama tiga hari rasanya tidak sia-sia. Sebab barang yang ku terima, cukup memuaskan. "Hem ... hem," suara bariton itu mengejutkanku. "Eh, Mas Kurir, masih ada di sini. Kok nggak pulang-pulang, Mas? Ntar dikira Bang Thoyib, loh," tanyaku setengah mencairkan suasana. "Gimana saya mau pulang, Mbak. Mbaknya belum bayar paketnya," jawabnya dengan tertawa. Duh, gara-gara saking senengnya paket datang, jadi lupa bayar. Tengsin banget 'kan jadinya. Untung Mas K...

Demi Anakku, Lili

Gambar
Jerit tangis Lili–bayiku membangunku dari tidur. Kulirik jam dinding, pukul 01.45 WIB. Manusia di sampingku ini pun hanya menggeliat saja, dan melanjutkan tidurnya dengan nyenyak. Aku mengembuskan napas dengan kasar, kalaupun ku bangunkan juga percuma. Biasanya, malah  makian yang ku dapatkan. Aku menghampiri Lili dan memeriksa popoknya. Ternyata pipis yang membuatnya risi, dan akhirnya menangis. Dengan hati-hati, aku menggantikan popok, dan menimangnya agar terlelap kembali sembari menahan rasa sakit, sebab jahitan di perutku belum sepenuhnya mengering. Dua minggu yang lalu, aku melahirkan dengan cara caesar, karena persalinan normal tak kunjung terjadi dan bayi tidak keluar setelah 20 jam. Jadi, dalam kasus ini, dokter mempertimbangkan operasi caesar untuk menghindari komplikasi. Kalian tahu, respon keluarga suamiku seperti apa saat suster menyuruh suamiku untuk menandatangani surat persetujuan operasi ? Ya, komentar pedas yang aku dapatkan. "Alah, nggak usah pak...

Kue Ulang Tahun untuk Adik

Gambar
Seperti tahun-tahun sebelumnya , Salim berharap bulan ini menjadi bulan peruntungan baginya. Karena biasanya, jajanan es mambonya akan laris dibeli oleh orang-orang yang mengikuti karnaval dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan. Akan tetapi, semua harapan itu seakan pupus. Sejak tahun lalu tidak ada lagi acara karnaval, sebab mobilitas masyarakat dibatasi karena adanya pandemi. Salim menatap dagangannya dengan nanar. Ia sedari pagi sudah keliling untuk menjajakan dagangannya, tetapi belum ada satu pun yang terbeli. "Es mambo ... es mambo," teriak Salim, dengan harap ada orang yang tertarik untuk membeli dagangannya. Baru memasuki gang perumahan sekejap, sudah ada yang meneriakinya. "Heh, sana pergi dari sini! Anak saya lagi tidur, nanti kalau anak saya bangun terus minta jajan bagaimana? Siapa yang mau bayar?" tukas salah seorang ibu rumah tangga sambil menunjuk-nunjuk muka Salim. "Maaf, Bu, kalau saya mengganggu. Niat saya, hanya mencari re...

Simbiosis Mutualisme

Gambar
Dengan secepat kilat, aku menyiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Semoga kali ini tidak telambat. Sebab, aku sudah sering mendapatkan teguran dari Guru BK. Mereka yang tak tahu menahu tentangku, pasti langsung memberikan cap bahwa aku adalah anak pintar, tetapi pemalas. Bagaimana tidak, aku selalu menyabet juara kelas saat pembagian raport tiba. Mereka tak tahu saja, setiap bakda subuh, aku selalu berangkat ke pasar untuk menjual berbagai macam sayuran yang ku petik bersama simbah, sampai semuanya terjual habis. Jika tidak, terpaksa sayurannya dibawa pulang lagi untuk dimasak. Maka dari itu, tak jarang aku telat masuk sekolah. Bukannya apa-apa. Hasil dari penjualan itu, merupakan napas kami untuk bertahan hidup. Mengandalkan sepetak tanah di belakang rumah, kami menanami aneka sayuran; kacang pancang, cabai, tomat, timun, kecipir, dll. Meskipun hasilnya tak seberapa, cukup bagi kami berdua. Sayuran ini tidak berbuah secara bersamaan. Jadi, aku bisa menjualnya setiap ...

Sastrawan Kondang; Sapardi Djoko Damono

Gambar
Siapa sih, yang tidak mengenal Sastrawan Kondang, Sapardi Djoko Damono? Mengingat, banyak sekali penghargaan yang diraih oleh beliau, dari karya-karya yang ia ciptakan,  mampu menyentuh hati siapa saja yang membacanya. Salah satu karyanya yang sangat populer, berjudul "Aku Ingin". Di dalam puisi tersebut, penyair menyampaikan tentang sebuah perasaan cinta kepada sang kekasih, yang mana ingin dibuktikannya melalui sebuah tindakan, bukan hanya sekadar mengandalkan kata-kata atau isyarat semata. Aku Ingin Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada —  Sapardi Djoko Damono Peranan Sapardi Djoko Damono dalam kancah sastra Indonesia sangat penting. Oleh sebab itu, kita sangat perlu untuk mengikuti jejaknya, mengingat beliau merupakan seorang penyair yang orisinil d...

Nasihat Simbah

Gambar
"Kalau kamu sudah besar nanti, pasti akan dihadapkan dengan rasa suka dengan lawan jenis. Pesan mbah, jaga dirimu baik-baik, ya, Nduk. Yang berhak menyentuhmu hanyalah lelaki yang sudah meminangmu kelak," tutur simbah sembari mencabuti rumput di depan rumah agar tetap tampak asri. "Ah, Nina ndak mau menikah lah, Mbah. Ujung-ujungnya nanti malah kayak ibu dan bapak," jawabku. Sebuah hal yang memuakkan, ketika aku mendengar mereka berdebat bukan untuk memperebutkan hak asuhku, melainkan saling melempar tanggung jawab seakan tak menginginkan aku sebagai darah dagingnya sendiri. Maka dari itu, seusai ibu dan bapak bercerai, aku memilih untuk tinggal di desa bersama simbah.  "Hus ... ndak boleh ngomong kayak gitu. Adanya kejadian antara ibu dan bapakmu itu, harusnya kita gunakan sebagai pembelajaran. Sebab, dalam berumah tangga itu isinya ndak melulu tentang cinta-cintaan, Nduk. Banyak ujian di dalamnya, tergantung keduanya bisa melewati ujian tersebut a...

Bukan Sekarang

Gambar
"Kamu jangan melanjutkan sekolah dulu, ya, Nduk," ujar ibu saat aku memberi tahu kepadanya bahwa aku lulus tes masuk P erguruan Tinggi Negeri di salah satu kotaku. Aku mengikuti tes ini, tanpa sepengetahuan ibu, dengan maksud sebagai kejutan. "Tapi, Bu ..." jawabku terpotong, aku tak sanggup melanjutkan kalimatnya lagi. Seketika, bulir mata mengalir dengan begitu deras. Bayangan akan melanjutkan sekolah di Perguruan Tinggi pun seakan sirna. "Kuliah kan usianya fleksibel, Nduk, nggak harus sekarang pun juga bisa. Lagi pula, mencari ilmu 'kan bisa didapat dari mana saja. Sebenarnya, ibu juga ingin sekali melihat Ranti melanjutkan kuliah sekarang, tapi apa boleh buat, kamu tahu sendiri 'kan adik-adikmu sudah semakin besar, otomatis biayanya juga akan semakin tinggi," jelas ibu. "Nanti aku sambil kerja, Bu, biar nggak memberatkan, Ibu." "Kuliah sambil kerja itu berat, Nduk. Bukannya gimana-gimana, fisikmu itu ringkih. Gam...

Percaya

Gambar
Heningnya malam, tak membuat rasa kantuk kian menghampiri. Memejamkan mata berkali-kali pun rasanya percuma. Hati gelisah, memikirkan bagaimana besok bisa membayar tunggakan, supaya kami tak terusir dari kontrakan ini. Novi memelukku dari belakang, "Tidurlah, Mas, udah malam. Besok tak nyoba minjem uang ke Mbak Riri dulu, kali aja dapet." Aku membalikkan badan, seraya menatapnya dalam-dalam, "Jangan, Dek, mas nggak tega kalau kamu direndahkan seperti yang sudah-sudah. Biar mas saja yang memikirkan bagaimana caranya, agar besok kita tidak diusir dari kontrakan ini. Kamu jangan khawatir, ya," ujarku menenangkan. Aku menyalakan HP, membuka aplikasi berlogo F, kali aja ada informasi di beranda mengenai lowongan kerjaan yang lebih layak. Sekejap, aku termenung dengan sebuah gambar yang berisi quote, "Menghina Tuhan tak perlu dengan umpatan dan membakar kitab-Nya. Khawatir besok kamu tak bisa makan saja itu sudah menghina Tuhan." –Sujiwo Tedjo ...

Dikira Hamil

Gambar
Sekitar dua tahun yang lalu, sebelum pandemi masuk ke tanah air. Di depan kos tempatku tinggal, sedang diadakan bazar yang diisi dengan berbagai jenis makanan dan juga pakaian. Pengunjungnya pun dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Bazar ini dimulai dari bakda Maghrib sampai jam 22.00 WIB. Bazar ini dilaksanakan selama tiga Minggu, dan setiap minggunya, ada hiburannya berupa orkes dangdut. Aroma makanan pun menguar di seluruh penjuru ruangan. Aku yang pencinta ngemil ini pun ikut tergiur. Setelah mempertimbangkan, makanan saja yang harus dibeli, dan yang pastinya murah di kantong. Aku menjatuhkan pilihan jajanan ke bakso bakar, batagor, dan sostel untuk dibeli.  Karena saking banyaknya antrian, perut pun juga udah keroncongan, aku pun berinisiatif untuk mengelus perut. Barangkali dengan cara ini, bisa sedikit menunda lapar. Akan tetapi, gerakan tanganku yang mengelus perut pun menjadikan ibu-ibu di sebelahku yang juga pembeli ini menjadi salah pah...

Apakah Dia Takdirku?

Gambar
Seperti biasanya, setelah pulang kuliah aku berdiri di halte untuk menunggu angkot tiba, namun kali ini rasa cemas kian menyeruak. Jam sudah menunjukkan pukul 14.15 itu artinya aku sudah lebih dari satu jam menunggunya di sini.  Beberapa saat kemudian, Seseorang mengendarai motor dengan mengenakan jaket jeans sobek-sobek itu berhenti tepat dihadapanku, tanpa basa-basi ia berbicara ke arahku, "eheem, ayo kuanter pulang." Aku yang tak mengenalnya pun bingung. Aku celingukan memandang samping kanan-kiri mungkin saja ada orang selain aku, namun ternyata tidak ada, "Maaf, Mas bicara sama saya?" tanyaku dengan mengerutkan dahi. "Tuh, bicara sama tiang sampingmu," jawabnya dengan nada kesal, "ya iya sama kamu lah, mau sama siapa lagi, yakali tiang tak ajak bicara." Setelah menampakkan wajah di balik helm yang sedari tadi ditutup kacanya, rasanya aku tak begitu asing dengan wajah itu, apa mungkin aku pernah ketemu atau papasan dengannya? Tapi...