Demi Anakku, Lili
Jerit tangis Lili–bayiku membangunku dari tidur. Kulirik jam dinding, pukul 01.45 WIB. Manusia di sampingku ini pun hanya menggeliat saja, dan melanjutkan tidurnya dengan nyenyak. Aku mengembuskan napas dengan kasar, kalaupun ku bangunkan juga percuma. Biasanya, malah makian yang ku dapatkan.
Aku menghampiri Lili dan memeriksa popoknya. Ternyata pipis yang membuatnya risi, dan akhirnya menangis. Dengan hati-hati, aku menggantikan popok, dan menimangnya agar terlelap kembali sembari menahan rasa sakit, sebab jahitan di perutku belum sepenuhnya mengering.
Dua minggu yang lalu, aku melahirkan dengan cara caesar, karena persalinan normal tak kunjung terjadi dan bayi tidak keluar setelah 20 jam. Jadi, dalam kasus ini, dokter mempertimbangkan operasi caesar untuk menghindari komplikasi.
Kalian tahu, respon keluarga suamiku seperti apa saat suster menyuruh suamiku untuk menandatangani surat persetujuan operasi? Ya, komentar pedas yang aku dapatkan.
"Alah, nggak usah pakai operasi segala. Ngabisin biaya aja. Udah tahu usaha suami lagi seret, malah mau operasi caesar lagi. Nyusahin aja jadi orang," omel ibu mertuaku dengan wajah sinisnya.
"Iya, Dek, kamu mending melahirkan secara normal aja, ya. Sayang uangnya, kalau dipakai buat operasi."
Air mataku pun luruh seketika. "Astagfirullah ... tega kamu, ya, Mas! Kamu dengar sendiri 'kan tadi, kalau nggak segera dioperasi, itu akan membahayakan nyawa bayi kita!" ucapku emosi.
Ibu dan Mas Nino–suamiku pun tetap kukuh pada pendirian awal. Tidak ingin aku bersalin dengan cara operasi. Aku yang di ambang ketidakberdayaan ini pun hanya bisa pasrah kepada Sang Maha Pencipta saja.
Di tengah-tengah suasana yang genting, seketika Allah memberikan pertolongan. Alhamdulillah ada bapak yang menengahi. Beliau baru saja datang dari kampung karena tadi malam, suamiku mengabari bahwa aku akan segera melahirkan. Hingga pada akhirnya, bapak lah yang membiayai persalinanku di rumah sakit.
***
"Bapak dapat uang dari mana?" tanyaku pada bapak, saat keadaanku sudah lumayan pulih pasca operasi.
"Kamu nggak usah pikirkan itu, yang penting jaga kesehatanmu dan bayimu, ya, Nduk," jawabnya seraya mengelus kepalaku.
"Makasih, ya, Pak, maafkan anakmu ini yang slalu merepotkan Bapak."
"Sampai kapan pun, kamu ini adalah anak bapak, Nduk. Anak kesayangan bapak. Kalau kamu udah nggak kuat, bilang. Jangan dipaksa, ya," ujar bapak memelukku dengan suara parau. Air mataku pun luruh seketika. Sepertinya, bapak sudah tahu tentang hari-hari berat yang ku lalui selama tinggal di sini.
"Demi Lili, InsyaAllah Dini kuat, Pak. Doain Dini, ya."
"Selalu, Nduk. Doa bapak selalu menyertaimu. Tetap jaga kesehatan, terutama kesehatan mentalmu, Nduk. Ingat, pesan bapak tadi, ya." Bapak melepaskan pelukannya, lalu menciumi cucu pertamanya dengan wajah yang bahagia.
"Cantik sekali, Nduk, mirip kamu sewaktu kecil," ujarnya. Aku tersenyum menanggapinya. Syukurlah, masih ada bapak yang peduli terhadapku dan Lili.
Ah ... jangan tanya ibu dan suamiku ada dimana, ya. Mereka pasti sedang mengumpulkan pundi-pundi rupiah, tanpa ada sedikitpun rasa khawatir untukku yang sudah mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan keturunannya.
Bagus bnget critanya, baca bisa sampe kerasa sedihnya
BalasHapusMakasih, Kak🤗
Hapus