Gara-gara Barang Diskonan
"Kamu tuh, jangan boros-boros kenapa sih, Mah!" pinta suamiku saat melihat ada beberapa paket di atas meja yang belum aku unboxing.
"Kalau yang dibeli itu barang-barang penting mah gapapa, Mah. Lha ini, udah barang nggak penting, sampai numpuk di lemari pula," lanjutnya.
Namaku Wita. Aku termasuk golongan emak-emak yang matanya ijo, setiap kali melihat diskonan. Jempol tuh rasanya gatel banget kalau nggak cekout-in barang-barang yang lagi diskon di aplikasi belanja online favoritku.
"Papah, coba lihat lagi deh, itu tuh barang-barang penting semua. Mulai dari sabun mandi, sabun cuci, minyak wangi, minyak goreng, pampers, bedak, dan segala tetek bengek keperluan rumah. Harusnya Papah bangga, dong, sama mamah. Karena, mamah bisa mendapatkan barang itu semua dengan harga diskon, jadi kita bisa lebih irit," jelasku dengan jumawa kepada Mas Arman —suamiku.
"Iya, tahu, Mah. Tapi, ya, nggak segitu banyaknya lah,” gerutu Mas Arman.
“iya, Pah, iya,” jawabku dengan malas. Tak tahu saja dia, kalau barang-barang yeng ku beli itu merupakan salah satu ladang penghasilanku. Aku tak pernah menceritakan ini kepada Mas Arman. Sebab dulu ia pernah melarangku. Katanya malu, kalau istrinya ini berjualan, kayak nggak pernah dikasih jatah bulanan saja katanya.
”Yaudah deh, terserah kamu aja, cara ngatur keuangannya bagaimana, yang penting jangan sampai minta jatah lagi, sebelum jadwalnya," ancamnya.
"Beres, Bosque," jawabku.
Aku sudah paham betul watak Mas Arman seperti apa, walaupun ia mendapatkan gaji yang lumayan besar, tetapi ia masih sangat peritungan kalau soal uang. Padahal, seiring berjalannya waktu kebutuhan kami semakin melonjak, apalagi sejak buah hati kami lahir.
Jangan pernah mengira bahwa aku tak pernah membicarakan ini padanya. Seperti biasa, ia akan tak acuh kepadaku. Aku tidak pernah memiliki tempat untuk sekadar menceritakan segala keluh kesahku sebagai istri dan juga ibu dari bayi kami yang super duper aktif.
Maka dari itu, untuk menambal kebutuhan-kebutuhan yang tak terduga, aku menjual barang-barang diskonan yang ku beli secara online kepada para tetanggaku. Usaha ini sudah aku lakoni sejak beberapa bulan yang lalu. Dengan strategi yang apik, selama itu pula suamiku tak pernah mengetahuinya
Mas Arman pun berpamitan untuk pergi ke kantor. Seperti biasa, ia akan lembur di hari weekend. Seakan tak ada waktu untuk keluarga, ia habiskan semua untuk bekerja. Dengan dalih, untuk tabungan di masa depan.
Lalu, dengan antusias ku ketik pesan untuk Mas Kurir Ganteng yang biasanya nganter paket ke rumah,"aman, Mas. Suamiku udah berangkat kerja."
"Oke siap. Meluncur, Sayang," balas Mas Kurir.
Jangan salahkan aku, Suamiku. Aku seperti ini juga karena dirimu sendiri yang tak pernah sekali pun ada waktu untukku dan anak kita. Jangan salahkan aku, ketika aku mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang selama ini aku butuhkan dan yang aku inginkan. Aku memanfaatkan barang-barang diskonan yang ku beli secara online sebagai tameng. Selain agar para tetangga tak ada yang curiga, aku jadi bisa lebih sering bertemu dengan Mas Kurir Kesayanganku.
sekali tepuk dua lalat kena hahaha. jangan salahkan aku ya Mas Arman sayang. cerdik nian istrinya
BalasHapusHahaha, iya cerdik banget nih Kak. Btw, terima kasih sudah mampir🤗
HapusKurir pengirim paketnya nggak ganti2 ya?
BalasHapusYa Allah... :((
BalasHapusYa Allah, ini kurir paket atau pekerja di tempat beli barang ya? Atau si istri minta nomer kurirnya karena ganteng kali ..hehe
BalasHapusSubhanallah.. Aku bingung mau komwn apa ya kalau begini hahaha... Tapi ceritanya keren euy! Endingnya tak kuduga, tapi yang kucurigai lakinya juga punya WIL #feelingMamak haha
BalasHapus