Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Semangat yang Tak Pernah Padam

Gambar
Rara menatap nanar bentuk sepatu yang sudah tak layak pakai ini. Bagian sampingnya menganga dan banyak yang terkelupas karena lem nya sudah tak mampu bertahan kuat. "Kok belum berangkat, Dek?" tanya Pipit–kakaknya.  Ia jongkok tepat di hadapan Rara, lalu memeriksa sepatu adiknya itu. Pipit mengembuskan napas dengan berat. "Oalah, karena ini toh. Sejak kapan rusaknya?" "Udah dari tiga hari yang lalu, Mbak," jawabnya dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa nggak bilang ke Mbak?" "Maaf, Mbak, Adek takut ngerepotin Mbak." Pipit berjalan menuju rak penyimpanan barang. Mencari sebuah benda yang bisa merekatkan sepatu adiknya–meskipun tetap masih jauh dari kata layak pakai. Rara pun melepaskan sepatunya lagi.  "Sementara dilem lagi, ya, Dek. Nanti kalau Mbak udah punya uang, Mbak beliin sepatu yang baru buat kamu," janji Pipit. "Doain tulisan Mbak banyak yang baca, ya, Dek," lanjutnya. "Iya, Mbak, aamiin. Rara pa...

Dasar, Gagal Move On!

Gambar
Oh, mengapakah kau tinggalkan aku seperti ini? Saat aku masih berharap Cinta ini masih bertahan untuk kita Oh, mengapakah kau membawa semua kenangan indah bersama kita dulu? Kini berakhir untuk selamanya Lagu Judika yang bejudul Tak Mungkin Bersama, ternyata masih menjadi lagu favorit yang sering kuputar, pasca diputuskan sebelah pihak oleh calon suamiku. "Orang tuh ya, kalau galau biasanya pada dengerin atau nonton yang berbau-bau ceria, biar suasana hati juga ikut happy . Move on , Sya, lelaki nggak cuma dia doang!" omel Rani–sahabatku yang sangat memekakkan. Aku menutup telinga dengan kedua tangan. "Eh, Sya, mau nggak gua kenalin sama temen gua. Kali aja cocok gitu. Mau ,ya?" Pintanya dengan memohon. Beberapa hari terakhir, Rani memang gencar banget jadi Mak Comblang. Tetapi, oh tidak ... aku belum ana niat sedikitpun membuka hati untuk orang baru.  "Sebelumnya makasih, ya, Ran, tapi sorry banget, dalam waktu dekat ini, gua belum bisa...

Sedu

Gambar
Adakah yang lebih menyakitkan dari berpisah dengan satu-satunya orang yang kamu miliki di dunia ini? *** "Nduk, barang apa aja ini yang mau dibawa? Biar Emak masukkan ke dalam tas," ucap Emak sambil memilah-milah bajuku dalam lemari. "Mak ... tapi Nina nggak mau ninggalin Emak sendirian di sini," ujarku dengan linangan air mata. " Uwes to ... Emak tu ndak pa-pa. Lagi pula di sini Emak nggak sendiri. Ada Bu Dhe Sri yang bisa dimintai bantuan kalau ada apa-apa." Emak memelukku erat, meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. "Tetapi ingatlah ... kehidupan di kota tak seenak yang dibayangkan orang-orang, Nduk. Jadilah anak yang baik, yang santun, dan sesibuk apapun kamu di sana jangan lupa untuk mengaji ya," lanjutnya sambil mengelus kepalaku. "Iya, Mak. Nina janji bakal jadi anak yang baik. Doain Nina ya ... supaya sukses. Biar bisa berangkatin Emak Ke Makkah." "Aamiiin...." Emak membantuku mengemas barang-ba...

Ketika Takdir Menyapa

Gambar
Setiap bakda subuh terdengar sayup-sayup para santri melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an di setiap penjuru ruangan. Di sinilah para santri dari pelosok negeri menimba ilmu. Selain belajar mengaji di Pondok, ada juga santri yang menempuh pendidikan umum, mulai dari sekolah dasar hingga bangku perkuliahan. Namaku Alina Fadhila, takdir yang membawaku ke penjara suci ini. Banyak pelajaran hidup yang aku temui, mulai dari disiplin, hidup hemat, hingga rindu yang tak terbendung untuk kedua orang tua. Beruntung, di sini aku mempunyai sahabat yang selalu menghibur. Namanya Alisha, gadis yang selalu ceria seakan tak pernah dirundung lara. Di sini semua sama. Hidup jauh dari keluarga. Setahun hanya bisa pulang dua hingga tiga kali saja, saat libur sekolah dan hari raya tiba. Kejam? tidak. Itu sudah menjadi konsekwensi kami ketika pertama kali menginjakkan kaki di Pondok Pesantren. "Eh, Lin iku lho, Kang seng wingi nitip salam kanggo awakmu," tunjuk Lisa pada Kang P...

Demi Anakku, Lili

Gambar
Jerit tangis Lili–bayiku membangunku dari tidur. Kulirik jam dinding, pukul 01.45 WIB. Manusia di sampingku ini pun hanya menggeliat saja, dan melanjutkan tidurnya dengan nyenyak. Aku mengembuskan napas dengan kasar, kalaupun ku bangunkan juga percuma. Biasanya, malah  makian yang ku dapatkan. Aku menghampiri Lili dan memeriksa popoknya. Ternyata pipis yang membuatnya risi, dan akhirnya menangis. Dengan hati-hati, aku menggantikan popok, dan menimangnya agar terlelap kembali sembari menahan rasa sakit, sebab jahitan di perutku belum sepenuhnya mengering. Dua minggu yang lalu, aku melahirkan dengan cara caesar, karena persalinan normal tak kunjung terjadi dan bayi tidak keluar setelah 20 jam. Jadi, dalam kasus ini, dokter mempertimbangkan operasi caesar untuk menghindari komplikasi. Kalian tahu, respon keluarga suamiku seperti apa saat suster menyuruh suamiku untuk menandatangani surat persetujuan operasi ? Ya, komentar pedas yang aku dapatkan. "Alah, nggak usah pak...

Kue Ulang Tahun untuk Adik

Gambar
Seperti tahun-tahun sebelumnya , Salim berharap bulan ini menjadi bulan peruntungan baginya. Karena biasanya, jajanan es mambonya akan laris dibeli oleh orang-orang yang mengikuti karnaval dalam rangka memeriahkan hari kemerdekaan. Akan tetapi, semua harapan itu seakan pupus. Sejak tahun lalu tidak ada lagi acara karnaval, sebab mobilitas masyarakat dibatasi karena adanya pandemi. Salim menatap dagangannya dengan nanar. Ia sedari pagi sudah keliling untuk menjajakan dagangannya, tetapi belum ada satu pun yang terbeli. "Es mambo ... es mambo," teriak Salim, dengan harap ada orang yang tertarik untuk membeli dagangannya. Baru memasuki gang perumahan sekejap, sudah ada yang meneriakinya. "Heh, sana pergi dari sini! Anak saya lagi tidur, nanti kalau anak saya bangun terus minta jajan bagaimana? Siapa yang mau bayar?" tukas salah seorang ibu rumah tangga sambil menunjuk-nunjuk muka Salim. "Maaf, Bu, kalau saya mengganggu. Niat saya, hanya mencari re...

Simbiosis Mutualisme

Gambar
Dengan secepat kilat, aku menyiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Semoga kali ini tidak telambat. Sebab, aku sudah sering mendapatkan teguran dari Guru BK. Mereka yang tak tahu menahu tentangku, pasti langsung memberikan cap bahwa aku adalah anak pintar, tetapi pemalas. Bagaimana tidak, aku selalu menyabet juara kelas saat pembagian raport tiba. Mereka tak tahu saja, setiap bakda subuh, aku selalu berangkat ke pasar untuk menjual berbagai macam sayuran yang ku petik bersama simbah, sampai semuanya terjual habis. Jika tidak, terpaksa sayurannya dibawa pulang lagi untuk dimasak. Maka dari itu, tak jarang aku telat masuk sekolah. Bukannya apa-apa. Hasil dari penjualan itu, merupakan napas kami untuk bertahan hidup. Mengandalkan sepetak tanah di belakang rumah, kami menanami aneka sayuran; kacang pancang, cabai, tomat, timun, kecipir, dll. Meskipun hasilnya tak seberapa, cukup bagi kami berdua. Sayuran ini tidak berbuah secara bersamaan. Jadi, aku bisa menjualnya setiap ...

Nasihat Simbah

Gambar
"Kalau kamu sudah besar nanti, pasti akan dihadapkan dengan rasa suka dengan lawan jenis. Pesan mbah, jaga dirimu baik-baik, ya, Nduk. Yang berhak menyentuhmu hanyalah lelaki yang sudah meminangmu kelak," tutur simbah sembari mencabuti rumput di depan rumah agar tetap tampak asri. "Ah, Nina ndak mau menikah lah, Mbah. Ujung-ujungnya nanti malah kayak ibu dan bapak," jawabku. Sebuah hal yang memuakkan, ketika aku mendengar mereka berdebat bukan untuk memperebutkan hak asuhku, melainkan saling melempar tanggung jawab seakan tak menginginkan aku sebagai darah dagingnya sendiri. Maka dari itu, seusai ibu dan bapak bercerai, aku memilih untuk tinggal di desa bersama simbah.  "Hus ... ndak boleh ngomong kayak gitu. Adanya kejadian antara ibu dan bapakmu itu, harusnya kita gunakan sebagai pembelajaran. Sebab, dalam berumah tangga itu isinya ndak melulu tentang cinta-cintaan, Nduk. Banyak ujian di dalamnya, tergantung keduanya bisa melewati ujian tersebut a...

Bukan Sekarang

Gambar
"Kamu jangan melanjutkan sekolah dulu, ya, Nduk," ujar ibu saat aku memberi tahu kepadanya bahwa aku lulus tes masuk P erguruan Tinggi Negeri di salah satu kotaku. Aku mengikuti tes ini, tanpa sepengetahuan ibu, dengan maksud sebagai kejutan. "Tapi, Bu ..." jawabku terpotong, aku tak sanggup melanjutkan kalimatnya lagi. Seketika, bulir mata mengalir dengan begitu deras. Bayangan akan melanjutkan sekolah di Perguruan Tinggi pun seakan sirna. "Kuliah kan usianya fleksibel, Nduk, nggak harus sekarang pun juga bisa. Lagi pula, mencari ilmu 'kan bisa didapat dari mana saja. Sebenarnya, ibu juga ingin sekali melihat Ranti melanjutkan kuliah sekarang, tapi apa boleh buat, kamu tahu sendiri 'kan adik-adikmu sudah semakin besar, otomatis biayanya juga akan semakin tinggi," jelas ibu. "Nanti aku sambil kerja, Bu, biar nggak memberatkan, Ibu." "Kuliah sambil kerja itu berat, Nduk. Bukannya gimana-gimana, fisikmu itu ringkih. Gam...

Percaya

Gambar
Heningnya malam, tak membuat rasa kantuk kian menghampiri. Memejamkan mata berkali-kali pun rasanya percuma. Hati gelisah, memikirkan bagaimana besok bisa membayar tunggakan, supaya kami tak terusir dari kontrakan ini. Novi memelukku dari belakang, "Tidurlah, Mas, udah malam. Besok tak nyoba minjem uang ke Mbak Riri dulu, kali aja dapet." Aku membalikkan badan, seraya menatapnya dalam-dalam, "Jangan, Dek, mas nggak tega kalau kamu direndahkan seperti yang sudah-sudah. Biar mas saja yang memikirkan bagaimana caranya, agar besok kita tidak diusir dari kontrakan ini. Kamu jangan khawatir, ya," ujarku menenangkan. Aku menyalakan HP, membuka aplikasi berlogo F, kali aja ada informasi di beranda mengenai lowongan kerjaan yang lebih layak. Sekejap, aku termenung dengan sebuah gambar yang berisi quote, "Menghina Tuhan tak perlu dengan umpatan dan membakar kitab-Nya. Khawatir besok kamu tak bisa makan saja itu sudah menghina Tuhan." –Sujiwo Tedjo ...

Dikira Hamil

Gambar
Sekitar dua tahun yang lalu, sebelum pandemi masuk ke tanah air. Di depan kos tempatku tinggal, sedang diadakan bazar yang diisi dengan berbagai jenis makanan dan juga pakaian. Pengunjungnya pun dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Bazar ini dimulai dari bakda Maghrib sampai jam 22.00 WIB. Bazar ini dilaksanakan selama tiga Minggu, dan setiap minggunya, ada hiburannya berupa orkes dangdut. Aroma makanan pun menguar di seluruh penjuru ruangan. Aku yang pencinta ngemil ini pun ikut tergiur. Setelah mempertimbangkan, makanan saja yang harus dibeli, dan yang pastinya murah di kantong. Aku menjatuhkan pilihan jajanan ke bakso bakar, batagor, dan sostel untuk dibeli.  Karena saking banyaknya antrian, perut pun juga udah keroncongan, aku pun berinisiatif untuk mengelus perut. Barangkali dengan cara ini, bisa sedikit menunda lapar. Akan tetapi, gerakan tanganku yang mengelus perut pun menjadikan ibu-ibu di sebelahku yang juga pembeli ini menjadi salah pah...

Apakah Dia Takdirku?

Gambar
Seperti biasanya, setelah pulang kuliah aku berdiri di halte untuk menunggu angkot tiba, namun kali ini rasa cemas kian menyeruak. Jam sudah menunjukkan pukul 14.15 itu artinya aku sudah lebih dari satu jam menunggunya di sini.  Beberapa saat kemudian, Seseorang mengendarai motor dengan mengenakan jaket jeans sobek-sobek itu berhenti tepat dihadapanku, tanpa basa-basi ia berbicara ke arahku, "eheem, ayo kuanter pulang." Aku yang tak mengenalnya pun bingung. Aku celingukan memandang samping kanan-kiri mungkin saja ada orang selain aku, namun ternyata tidak ada, "Maaf, Mas bicara sama saya?" tanyaku dengan mengerutkan dahi. "Tuh, bicara sama tiang sampingmu," jawabnya dengan nada kesal, "ya iya sama kamu lah, mau sama siapa lagi, yakali tiang tak ajak bicara." Setelah menampakkan wajah di balik helm yang sedari tadi ditutup kacanya, rasanya aku tak begitu asing dengan wajah itu, apa mungkin aku pernah ketemu atau papasan dengannya? Tapi...

Sebungkus Cilok

Gambar
Aku duduk bersandar di kursi yang terletak di bawah pohon depan rumahku. Semilir angin, membuat rasa kantuk kian menyerang. Tolit ... tolit ... tolit Bunyi alat pedagang cilok menggema, dengan secepat kilat. Anak-anak yang tadinya bermain bola di lapangan depan rumahku itu mengerumuni penjualnya. Melihat fenomena ini, ingatan getir tentang masa lalu menjadi terungkap, di mana aku dan adikku hanya bisa memperhatikan dari jauh ketika ada teman sebaya kami yang membeli cilok di Akang langganan. Tentu saja, karena kami bukanlah dari keluarga berada. Pada saat itu pula, bapak –tulang punggung keluarga kami sedang sakit. Hanya ibu yang bekerja pontang-panting untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari . Aku pun tak tega, jika harus meminta uang hanya untuk sekadar membeli jajan. Adik yang belum mengerti apa-apa, dengan rewel minta dibelikan cilok juga. "Ayo, masuk ke dalam rumah saja, Dek," ajakku dengan menggandeng tangan mungilnya, sebab tak ingin melihat kejadian ini...

Kenangan Manis

Gambar
Siapa yang sewaktu kecil suka mandi di sungai bareng teman-teman, tetapi pas pulang dimarahin emak karena basah kuyup? Sebagai anak desa, yang dulunya tidak ada kolam renang di daerah sini, kami menjatuhkan pilihan di sungai sebagai tempat berenang, atau orang-orang di sini menyebutnya dengan istilah kali. Di kali, banyak sekali aktivitas yang dilakukan oleh warga sekitar, ada yang mencuci baju, berenang, memancing, atau bahkan dipergunakan untuk buang air besar. Teringat kejadian masa kecil dulu, aku bersama dengan ke-empat temanku –Nopi, Indah, Samsul, dan Eko senang sekali waktu  berenang-renang  di kali dengan mengikuti arus air. Saking betahnya, kami jadi nggak kerasa kalau sudah nyemplung berjam-jam, hingga perut pun keroncongan minta diisi. Kita semua sepakat, akan mengadakan bakar-bakaran di tepian kali. Kami pun mengerjakan tugas masing-masing, sesuai dengan kesepakatan bersama . Eko yang jago memancing pun, dengan sekejap mendapatkan beberapa ikan. S...

Jangan Menilai Seseorang, Hanya dari Sampulnya

Gambar
"Sudah terkumpul semua, Mbah?" tanyaku memastikan bahwa tak ada sayuran yang tertinggal. Sayuran ini, hasil panen dari kebun milik sendiri. Kami menjual jenis sayuran sesuai musim, dan kali ini, kami menanam sayuran kacang panjang. "Sudah, Nduk, hati-hati, ya. Jangan ngebut, jalanan masih licin." Aku berangkat dengan mengandarai sepeda onthel,  dilengkapi bronjong di boncengan belakang dengan sangat hati-hati, sebab jalanan masih licin karena semalam dilanda hujan lebat. Penerangan pun minim, karena aku berangkat ke pasar setelah subuh. Aku berjualan di Pasar Pagi, menggelar dagangan di lapak dan menunggu pembeli adalah rutinitasku dua bulan terakhir ini. Sebelumnya, simbah yang berjualan, akan tetapi setelah insiden kesrempet motor sewaktu pulang dari pasar, aku tak memperbolehkannya jualan lagi, biar aku saja yang menggantikan. Aku berteriak menawarkan sayuran kepada orang yang berlalu lalang, "Kacang panjangnya, Bu. Murah meriah. Dua ribuan...

Mengapa Menulis?

Gambar
Sebagai manusia yang tak pandai menuturkan cerita melalui lisan, aku memilih bercerita melalui sebuah tulisan. Melalui menulis, aku bisa lebih leluasa dalam mencurahkan segala rasa. Melalui menulis pula, aku akan merasa berada di titik lega. Pertama kalinya masuk ke dalam dunia literasi, aku memulai langkah dengan mengikuti event-event literasi yang betebaran di beranda Facebook. Selang beberapa bulan kemudian, aku bergabung sebagai admin online di salah satu penerbit indie. Sejak bergabung di dalam dunia penerbitan, membuatku menjadi sedikit lebih melek mengenai dunia literasi. Mengingat bahwasannya banyak sekali proses yang harus dilalui, sebelum naskah itu bisa terbit menjadi sebuah buku. Namun sayang sekali, itu tak berlangsung lama. Semenjak pandemi melanda negeri kita tercinta, efeknya sangat kerasa sekali bagi penerbit. Sehingga, mau tak mau, penerbit terpaksa vakum untuk sementara waktu. Untuk mengisi waktu luang, aku mengikuti nubar (nulis bareng) cerpen dan juga m...

Pengalaman Pertama

Gambar
Setelah sekian lama, akhirnya aku menginjakkan kaki lagi di sekolah. Tetapi, kali ini berbeda. Aku bukan lagi seorang siswa, melainkan menjadi seorang guru, di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan di kotaku. Sekolah ini sudah melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka sejak sepekan lalu, dengan syarat harus tetap mematuhi protokol kesehatan, agar pelaksanaannya tetap berjalan dengan lancar, aman, dan nyaman. Karena ini pertama kalinya aku mengajar, maka aku menyiapkan segala tetek-bengeknya secara matang, terutama perihal materi pembelajaran. Dengan penuh semangat, aku berangkat ke sekolah dengan mengendarai motor butut kesayanganku. Sebelum memasuki sekolah, kami semua diwajibkan untuk mematuhi protokol kesehatan dengan mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker, dan juga mengecek suhu tubuh kami terlebih dahulu. Setelah bel tanda masuk berbunyi, aku pun memasuki ruang kelas. Rasa takut, gemetar, tidak percaya diri, dan segala hal yang membuatku down akhirnya musnah seke...

Gara-gara Barang Diskonan

Gambar
"Kamu tuh, jangan boros-boros kenapa sih, Mah!" pinta suamiku saat melihat ada beberapa paket di atas meja yang belum aku unboxing. "Kalau yang dibeli itu barang-barang penting mah gapapa, Mah. Lha ini, udah barang nggak penting, sampai numpuk di lemari pula," lanjutnya. Namaku Wita. Aku termasuk golongan emak-emak yang matanya ijo, setiap kali melihat diskonan. Jempol tuh rasanya gatel banget kalau nggak cekout-in barang-barang yang lagi diskon di aplikasi belanja online favoritku. "Papah, coba lihat lagi deh, itu tuh barang-barang penting semua. Mulai dari sabun mandi, sabun cuci, minyak wangi, minyak goreng, pampers, bedak, dan segala tetek bengek keperluan rumah. Harusnya Papah bangga, dong, sama mamah. Karena, mamah bisa mendapatkan barang itu semua dengan harga diskon, jadi kita bisa lebih irit," jelasku dengan jumawa kepada Mas Arman —suamiku. "Iya, tahu, Mah. Tapi, ya, nggak segitu banyaknya lah,” gerutu Mas Arman. “iya, Pah, ...