Semangat yang Tak Pernah Padam
Rara menatap nanar bentuk sepatu yang sudah tak layak pakai ini. Bagian sampingnya menganga dan banyak yang terkelupas karena lem nya sudah tak mampu bertahan kuat. "Kok belum berangkat, Dek?" tanya Pipit–kakaknya. Ia jongkok tepat di hadapan Rara, lalu memeriksa sepatu adiknya itu. Pipit mengembuskan napas dengan berat. "Oalah, karena ini toh. Sejak kapan rusaknya?" "Udah dari tiga hari yang lalu, Mbak," jawabnya dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa nggak bilang ke Mbak?" "Maaf, Mbak, Adek takut ngerepotin Mbak." Pipit berjalan menuju rak penyimpanan barang. Mencari sebuah benda yang bisa merekatkan sepatu adiknya–meskipun tetap masih jauh dari kata layak pakai. Rara pun melepaskan sepatunya lagi. "Sementara dilem lagi, ya, Dek. Nanti kalau Mbak udah punya uang, Mbak beliin sepatu yang baru buat kamu," janji Pipit. "Doain tulisan Mbak banyak yang baca, ya, Dek," lanjutnya. "Iya, Mbak, aamiin. Rara pa...