Mengapa Menulis?


Sebagai manusia yang tak pandai menuturkan cerita melalui lisan, aku memilih bercerita melalui sebuah tulisan. Melalui menulis, aku bisa lebih leluasa dalam mencurahkan segala rasa. Melalui menulis pula, aku akan merasa berada di titik lega.

Pertama kalinya masuk ke dalam dunia literasi, aku memulai langkah dengan mengikuti event-event literasi yang betebaran di beranda Facebook. Selang beberapa bulan kemudian, aku bergabung sebagai admin online di salah satu penerbit indie.

Sejak bergabung di dalam dunia penerbitan, membuatku menjadi sedikit lebih melek mengenai dunia literasi. Mengingat bahwasannya banyak sekali proses yang harus dilalui, sebelum naskah itu bisa terbit menjadi sebuah buku. Namun sayang sekali, itu tak berlangsung lama. Semenjak pandemi melanda negeri kita tercinta, efeknya sangat kerasa sekali bagi penerbit. Sehingga, mau tak mau, penerbit terpaksa vakum untuk sementara waktu.

Untuk mengisi waktu luang, aku mengikuti nubar (nulis bareng) cerpen dan juga mencoba ikut serta dalam event-event cerpen yang diselenggarakan oleh penerbit. Tidak lolos? Sering. Sempat menyerah? Tentu.

Akan tetapi, setelah melihat flyer pendaftaran member Komunitas One Day One Post Batch 9, api yang sempat meredup itu, seakan perlahan kembali membara.

Salah satu syaratnya, aku harus menulis sesuai dengan tema yang sudah ditentukan oleh penyelenggara, yaitu Merdeka di Tengah Pandemi. Lalu, dengan sigap, aku langsung merangkai kata demi kata, dan mempostingnya di media sosial.

Rasa deg-degan pun muncul saat mendekati hari pengumuman. Speechless ... ternyata namaku ada di antara nama-nama peserta yang lolos. Bahagia? Tentu.

Jika ditanya, apa alasannya mengikuti kelas ini, dengan tegas aku menjawab, bahwa aku ingin membangkitkan semangat menulisku lagi, dan juga menggali ilmu-ilmu dari para mastah. Mengingat jika akhir-akhir ini, aku sering sekali berdamai dengan rasa malas.

Mungkin saja, dengan bergabung di Komunitas ODOP, akan menjadikan salah satu jalan pembuka yang berguna bagi masa depanku nanti. Mengingat bahwasanya banyak sekali penulis yang bukan hanya sekadar menuntaskan hobby saja, tetapi juga mendapatkan penghasilan di dalamnya. Seperti kata pepatah yang sering ku dengar, "Sekali dayung, dua pulau terlampaui".

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Takdir Aina (8)

Nasihat Simbah

Gara-gara Barang Diskonan