Sebungkus Cilok


Aku duduk bersandar di kursi yang terletak di bawah pohon depan rumahku. Semilir angin, membuat rasa kantuk kian menyerang.

Tolit ... tolit ... tolit
Bunyi alat pedagang cilok menggema, dengan secepat kilat. Anak-anak yang tadinya bermain bola di lapangan depan rumahku itu mengerumuni penjualnya.

Melihat fenomena ini, ingatan getir tentang masa lalu menjadi terungkap, di mana aku dan adikku hanya bisa memperhatikan dari jauh ketika ada teman sebaya kami yang membeli cilok di Akang langganan.

Tentu saja, karena kami bukanlah dari keluarga berada. Pada saat itu pula, bapak –tulang punggung keluarga kami sedang sakit. Hanya ibu yang bekerja pontang-panting untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Aku pun tak tega, jika harus meminta uang hanya untuk sekadar membeli jajan. Adik yang belum mengerti apa-apa, dengan rewel minta dibelikan cilok juga.

"Ayo, masuk ke dalam rumah saja, Dek," ajakku dengan menggandeng tangan mungilnya, sebab tak ingin melihat kejadian ini berlama-lama.

"Kamu pasti laper 'kan? Kakak buatin nasi goreng mau?" tanyaku pada adik, yang sedari tadi memegang perut dengan bunyi keroncongan.

Ia mengangguk, "mau, Kak, dikasih kecap juga, ya," pintanya dengan sangat antusias. Aku lalu menuju ke dapur, hanya ada nasi sisa semalam, dan beberapa bumbu yang tidak lengkap. Urusan rasa mah belakangan, yang penting judulnya 'kan nasi goreng.

Adik memakannya dengan sangat lahap, nasi yang hanya tinggal setengah piring itu, aku tak tega jika ikut memakannya. Tak apa aku lapar, asalkan adik kenyang. Lalu kusuruh ia tidur siang, agar tak merengek lagi meminta jajan.

Setelah ku pastikan ia tidur dengan nyenyak. Aku pun berlalu ke dapur, mencuci perabotan yang sempat ku pakai untuk memasak tadi, dan mengisi air di gentong. Aku menenteng dua ember berukuran sedang untuk wadah air. Dengan tubuh yang kerempeng, aku dengan susah payah menarik timba yang ukurannya cukup besar itu. Setelah bolak-balik sampai lima kali, akhirnya gentong pun terisi penuh, sehingga kalau ibu pulang kerja nanti nggak perlu ngambil air lagi ke sumur.

Ibu kerja sebagai buruh cuci panggilan di komplek sekitar sini. Pulangnya tak pasti, tergantung dari banyaknya pakaian kotor yang dicuci.

Tangisan adik terdengar begitu keras. Baru juga tidur sebentar, sudah kebangun dia. Dengan lihai, aku menggendong dan menenangkan adik. Selang beberapa menit, ibu pulang menenten plastik bening yang berisi cilok. Adik yang kegirangan, sampai-sampai hampir terjatuh dari gendongan.

Setelah sekian lama, akhirnya aku dan adik bisa memakan jajanan ini juga. Jajanan yang selama ini hanya bisa kita lihat dari kejauhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Takdir Aina (8)

Nasihat Simbah

Gara-gara Barang Diskonan