Semangat yang Tak Pernah Padam


Rara menatap nanar bentuk sepatu yang sudah tak layak pakai ini. Bagian sampingnya menganga dan banyak yang terkelupas karena lem nya sudah tak mampu bertahan kuat.

"Kok belum berangkat, Dek?" tanya Pipit–kakaknya. 

Ia jongkok tepat di hadapan Rara, lalu memeriksa sepatu adiknya itu. Pipit mengembuskan napas dengan berat.

"Oalah, karena ini toh. Sejak kapan rusaknya?"

"Udah dari tiga hari yang lalu, Mbak," jawabnya dengan mata berkaca-kaca.

"Kenapa nggak bilang ke Mbak?"

"Maaf, Mbak, Adek takut ngerepotin Mbak."

Pipit berjalan menuju rak penyimpanan barang. Mencari sebuah benda yang bisa merekatkan sepatu adiknya–meskipun tetap masih jauh dari kata layak pakai. Rara pun melepaskan sepatunya lagi. 

"Sementara dilem lagi, ya, Dek. Nanti kalau Mbak udah punya uang, Mbak beliin sepatu yang baru buat kamu," janji Pipit.

"Doain tulisan Mbak banyak yang baca, ya, Dek," lanjutnya.

"Iya, Mbak, aamiin. Rara pamit dulu, ya." Rara mencium tanganku dan berangkat ke sekolah.

Dua bulan terakhir ini, Pipit mencoba peruntungan sebagai penulis di aplikasi menulis berwarna merah jambu. Untuk penghasilannya, diakumulasi dari seberapa banyaknya orang yang membaca tulisan kita. Hasil bulan kemarin, bisa dibilang lumayan lah, bisa untuk menambal kebutuhan dapur mereka.

Ting!

Notifikasi bermunculan di layar handphone Pipit. Ia baru saja memposting cerita bersambung atau cerbung di salah satu grup kepenulisan di media sosial. Senyum sumringah terpancar dari wajahnya, sebab respon pembaca sangat bagus, banyak sekali komentar-komentar positif dan juga penyemangat agar Pipit segera memposting kelanjutan cerita yang ia tulis.

"Pit ... Pipit," teriak Sari–Sahabat dan juga rekan kerjanya di warung makan Bu Broto.

"Iya, Sar, sebentar." Pipit memasukkan handphonenya ke dalam tas, lalu berjalan ke luar rumah.

"Ayo buruan, udah hampir telat ini," ajaknya. Kami berjalan agak cepat dari biasanya. Bisa-bisa disemprot nanti kalau sampai telat. Sekitar lima menit menyusuri jalanan. Akhirnya sampai juga di warung. Syukurlah tidak telat.

Pipit dan Sari pun langsung mengerjakan tugas-tugas bagiannya. Mulai dari menyapu, mengepel, beres-beres dan juga melayani pembeli. Untuk menghilangkan sedikit kejenuhan, Sari menyetel Musik dangdut. Ia pun memperagakan bak penyanyi kondang yang sedang konser. Pipit dibuat geleng-geleng oleh tingkahnya.

"Kecilin dikit, Sar, ntar diomelin Bu Broto baru tahu rasa."

"Aman, Pit. Tenang, Bu Broto kan lagi keluar pergi kondangan. Masak tadi nggak denger?"

"Masak sih, kapan bilangnya?"

"Ya tadi ... kuping lu banyak congeknya deh kayaknya. Di tas gua ada korek kuping tuh!" tunjuk Sari pada tasnya yang terletak di atas meja.

***
Sembari menunggu pembeli datang, Pipit dan Sari duduk di depan warung. Terlihat seorang anak laki-laki kecil berjalan dengan menenteng sebuah kresek ke arah kami.

"Koran, koran. Korannya, Mbak," tawarnya.

"Berapa, Dek?"

"Cuma lima ribu, Kak. Nih, kalau mau lihat dulu nggak papa."

Pipit menerima koran itu. Matanya tertuju pada kolom pengumuman lomba di pojok kanan atas, semangat menulisnya seketika menggebu-gebu.

"Kakak mau ya, Dek. Nih uangnya." Pipit menyerahkan uang lima ribu. Adek penjual itu pun berlalu setelah mengucapkan terima kasih kepada mereka.

"Tumben banget beli koran, kesambet apa Lu?" tanya Sari kepada Pipit.

"Nih, Sar. Ada event menarik yang menarik. Hadiahnya puluhan juta." Tunjuk Pipit pada Sari. "Aku mau ikutan ah," lanjut Pipit.

Sari mengacungkan dua jempolnya kepada Pipit. Ia sangat bangga kepada sahabatnya itu. Semangatnya seakan tak pernah padam. "Semoga menang, Pit!"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Takdir Aina (8)

Nasihat Simbah

Gara-gara Barang Diskonan