Jangan Menilai Seseorang, Hanya dari Sampulnya


"Sudah terkumpul semua, Mbah?" tanyaku memastikan bahwa tak ada sayuran yang tertinggal. Sayuran ini, hasil panen dari kebun milik sendiri. Kami menjual jenis sayuran sesuai musim, dan kali ini, kami menanam sayuran kacang panjang.

"Sudah, Nduk, hati-hati, ya. Jangan ngebut, jalanan masih licin."

Aku berangkat dengan mengandarai sepeda onthel,  dilengkapi bronjong di boncengan belakang dengan sangat hati-hati, sebab jalanan masih licin karena semalam dilanda hujan lebat. Penerangan pun minim, karena aku berangkat ke pasar setelah subuh.

Aku berjualan di Pasar Pagi, menggelar dagangan di lapak dan menunggu pembeli adalah rutinitasku dua bulan terakhir ini. Sebelumnya, simbah yang berjualan, akan tetapi setelah insiden kesrempet motor sewaktu pulang dari pasar, aku tak memperbolehkannya jualan lagi, biar aku saja yang menggantikan.

Aku berteriak menawarkan sayuran kepada orang yang berlalu lalang, "Kacang panjangnya, Bu. Murah meriah. Dua ribuan."

"Ibu mau, Nduk, lima ikat, ya." Alhamdulillah, akhirnya ada yang beli juga.

"Monggo, Bu, milih dulu, kacang mana yang mau diambil," ujarku sambil mengambil plastik untuk wadah sayuran. Setelah puas memilih, ibu itu menyodorkan uang Rp. 10.000,-. Tak lupa, aku mengucapkan terima kasih kepadanya.

Selang beberapa menit, datanglah seorang ibu dengan pakaian glamor, dan memakai emas yang sangat menyilaukan mata. Aku berharap, kalau orang kaya ini nanti akan memborong sayuranku.

"Berapaan, ini harganya, Dek?" tanyanya sambil memilah kacang panjang.

"Murah, Bu, hanya Rp.2.000,- saja per ikatannya," jawabku.

"Hah? Kacang udah layu kayak gini kamu hargain Rp.2000,-? Ngaco kamu!" ujarnya setengah berteriak, "Rp.1.000 aja, ya, nanti saya ambil lima ikat," lanjutnya.

"Mohon maaf, Bu, tidak bisa. Kalaupun mau nawar, tolong jangan menghina dagangan saya. Semua orang juga bisa melihat, kalau kacang panjang saya ini masih fresh," jawabku dengan menahan emosi.

"Iya, betul tuh. Kacang masih seger gini, kok, dibilang layu. Gayanya aja selangit, tapi kalau nawar harga nggak kira-kira!" sahut Mak Ira —pedagang nasi pecel, samping lapakku.

Lalu ibu itupun berlalu. Mungkin saja malu, karena semua orang yang ada di lapak ini, memandangnya dengan tatapan sinis.

Aku merapikan tatanan sayuranku dan menawarkannya lagi pada orang-orang. Seorang bapak-bapak dengan pakaian compang-campingnya itu berdiri tepat di depan lapakku. Aku dengan sigap memberikannya selembar uang.

"Maaf, Dek, bapak bukan pengemis. Bapak mau beli kacang panjang," tuturnya sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.

Astagfirullah. Berdosa sekali aku, dengan menyimpulkan pribadi seseorang haya karena melihat sampulnya saja. Aku dengan cepat meminta maaf kepada bapak itu tadi.

"Nggak papa, Dek. Bapak maklum. Bapak mau kacangnya dua puluh ikat, ya," pintanya.

"Be-be-beneran, Pak?" tanyaku dengan terbata-bata, "Ini banyak banget, buat acara, ya, Pak?" ucapku.

"Enggak, Dek, mau bapak bagi-bagiin ke temen seprofesi. Pasti nanti istrinya pada seneng, kalau dibawain sayuran." Mulia sekali hati bapak ini. Aku dengan sigap membungkuskan kacang panjang beserta bonusnya ke dalam plastik.

Setelah ku tanya-tanya, ternyata bapak ini adalah seorang pemulung. Walaupun hidupnya serba pas-pasan, ia masih menyempatkan untuk bersedekah. MasyaAllah ... kejadian pagi ini, seakan memberikan tamparan keras buatku.

"Jangan, Dek, ini kebanyakan kacangnya. Nanti kamu rugi," ujar bapak itu sembari mengambil dan meletakkan beberapa ikat kacang panjang di lapakku lagi. Aku buru-buru mencegahnya.

"Udah, Pak, ambil aja. Anggap saja, saya juga ikut berbagi kepada teman-teman, Bapak."

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Takdir Aina (8)

Nasihat Simbah

Gara-gara Barang Diskonan