Bukan Sekarang


"Kamu jangan melanjutkan sekolah dulu, ya, Nduk," ujar ibu saat aku memberi tahu kepadanya bahwa aku lulus tes masuk Perguruan Tinggi Negeri di salah satu kotaku. Aku mengikuti tes ini, tanpa sepengetahuan ibu, dengan maksud sebagai kejutan.

"Tapi, Bu ..." jawabku terpotong, aku tak sanggup melanjutkan kalimatnya lagi. Seketika, bulir mata mengalir dengan begitu deras. Bayangan akan melanjutkan sekolah di Perguruan Tinggi pun seakan sirna.

"Kuliah kan usianya fleksibel, Nduk, nggak harus sekarang pun juga bisa. Lagi pula, mencari ilmu 'kan bisa didapat dari mana saja. Sebenarnya, ibu juga ingin sekali melihat Ranti melanjutkan kuliah sekarang, tapi apa boleh buat, kamu tahu sendiri 'kan adik-adikmu sudah semakin besar, otomatis biayanya juga akan semakin tinggi," jelas ibu.

"Nanti aku sambil kerja, Bu, biar nggak memberatkan, Ibu."

"Kuliah sambil kerja itu berat, Nduk. Bukannya gimana-gimana, fisikmu itu ringkih. Gampang sakit. Ibu mohon, kali ini aja, Nduk."

Aku paham betul, apa yang dirasakan oleh ibu. Berperan rangkap sebagai kepala keluarga sekaligus menjadi ibu rumah tangga memanglah tidak mudah. Ditambah, dengan hasil jualan nasi bakar ibu yang kian menurun akhir-akhir ini, membuatnya pesimis tidak bisa memberikan uang saku yang layak kepada kami.

Aku mengusap air mataku dan menyunggingkan sebuah senyuman. Aku harus lebih berbesar hati, dalam menerima sebuah kenyataan. Mungkin, sekarang bukan waktu yang tepat, semoga saja di masa depan nanti, aku ditakdirkan oleh-Nya menjadi seorang mahasiswa.

"Iya, Bu, nggak papa. Nanti Ranti coba nyari lowongan kerjaan aja. Syukur-syukur bisa dapet yang di sekitar sini." Ibu memelukku sembari meminta maaf.

"Ibu nggak salah, harusnya dari awal Ranti sadar, bahwa Ranti bukan anak dari keluarga yang berada. Maafin Ranti, ya, Bu," tuturku.

Ada kalanya, tidak semua hal yang kita inginkan akan menjadi sebuah kenyataan. Mungkin waktunya bukan sekarang, tetapi nanti. Jadi, bersyukurlah bagi kamu, yang segala keinginannya bisa dengan mudahnya tercapai.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Takdir Aina (8)

Nasihat Simbah

Gara-gara Barang Diskonan