Apakah Dia Takdirku?
Seperti biasanya, setelah pulang kuliah aku berdiri di halte untuk menunggu angkot tiba, namun kali ini rasa cemas kian menyeruak. Jam sudah menunjukkan pukul 14.15 itu artinya aku sudah lebih dari satu jam menunggunya di sini.
Beberapa saat kemudian, Seseorang mengendarai motor dengan mengenakan jaket jeans sobek-sobek itu berhenti tepat dihadapanku, tanpa basa-basi ia berbicara ke arahku, "eheem, ayo kuanter pulang."
Aku yang tak mengenalnya pun bingung. Aku celingukan memandang samping kanan-kiri mungkin saja ada orang selain aku, namun ternyata tidak ada, "Maaf, Mas bicara sama saya?" tanyaku dengan mengerutkan dahi.
"Tuh, bicara sama tiang sampingmu," jawabnya dengan nada kesal, "ya iya sama kamu lah, mau sama siapa lagi, yakali tiang tak ajak bicara."
Setelah menampakkan wajah di balik helm yang sedari tadi ditutup kacanya, rasanya aku tak begitu asing dengan wajah itu, apa mungkin aku pernah ketemu atau papasan dengannya? Tapi di mana? Aaiih, aku memang payah kalau soal ingatan.
'Malah ngalamun. Heeei," ujarnya sambil melambaikan tangan.
"Emang kita saling kenal, kok mau nganterin pulang?" ucapku penasaran.
"Emangnya kalau mau nganterin pulang itu harus saling kenal dulu, ya? Yaudah sini kenalan. Hidayat, anak teknik semester 7."
Aku menimbang-nimbang berbagai macam hal. Kalau aku nggak pulang sekarang nanti gimana jadinya? Ya kali harus nungguin angkot sampai jamuran. Apalagi cuacanya kali ini semakin tak bersahabat lagi. Yaudah deh, kuterima aja tawarannya.
"Salam kenal juga, aku Yen...."
"Udah tahu, nggak usah dijawab, nih helmnya dipake biar aman," ujarnya memotong pembicaraanku.
Rese sih sebenarnya, tapi ya mau gimana lagi kalau nggak bener-bener kepepet mana mau aku dianterin sama dia. Karpet emang!
Hari ini, nasib baik belum berpihak kepadaku, belum sampai kost-an, eh, kota ini sudah diguyur hujan. Walhasil, kita mampir di salah satu kedai makan pinggir jalan.
"Mau makan apa, Yen?"
"Apa aja deh, Mas. Yang penting bisa ditelan."
"Kerikil mau?"
"Yeee, emangnya saya Master Limbad apa," jawabku sambil memicingkan mata, dan dibalas gelak tawa darinya.
"Kamu lucu, Yen. Gimana aku nggak tambah cinta coba."
"Hah? gimana-gimana? Nggak kedengaran, Mas." Di sini hujannya deras sekali, maklum saja kalau pendengaranku tidak cukup bagus untuk menangkap suara.
"Lupakan, nih ayo dimakan, mumpung masih hangat," ujarnya sambil menyodorkan sebuah mangkuk berisi soto yang aromanya menguar membuat siapapun tergoda ingin segera menyantapnya.
"Udah lama langganan sini ya? Akrab banget sama penjualnya," tanyaku memecah keheningan.
"Cemburu kamu, Yen?" tanyanya sambil nyengir. Dih, apaan coba.
"Hu'um, Yen. Dulu waktu masih ngekost di dekat sini, warung ini jadi langganan sama temen-temen juga. Ya ... selain harganya yang terjangkau, tempatnya pun bersih. Dan semenjak ibu pemilik warung ini meninggal, usahanya dilanjutin tuh sama cucunya," ujarnya sambil menunjuk seseorang di meja kasir.
"Tahu banget story tentang warung ini."
"Ya tahu lah, apalagi kalau tentang kamu, Yen. Tahu banget aku."
"Baru aja kenal, udah gombalin anak orang."
"Kamu aja yang nggak nyadar kalau aku selalu ngasih signal ke kamu, Yen Yen," kilahnya disertai geleng-geleng kepala.
"Hilih," jawabku tak percaya.
"Serius, Yen. Tapi ya gini, aku baru berani nyapa dan ngajak bicara kamu sekarang. Cemen banget kan ya aku?”
Aku tertawa dengan segala penuturannya. Nggak percaya aku, itu mah cuma trik buaya yang mau ngedeketin mangsanya aja.
"Jangan ketawa-ketiwi terus. Ntar keselek baru tahu rasa."
"Yeeee ... rese."
Semenjak pertemuan itu, hubungan kita malah jadi semakin intens. Mulai dari chat sampai tengah malam, telfonan berjam-jam, atau bahkan ke luar bareng walau hanya untuk sekadar makan.
Aneh memang, pertemuan singkat yang berujung menjadi sebuah hubungan. Pernah mencoba ingin menghindar karena suatu hal. Tapi entah kenapa malah semakin didekatkan sama orang nyebelin bin jail ini.
Mungkin karena satu hal, yaitu nyaman.
Dia menyediakan tempat untukku berkeluh kesah, berbagi cerita, suka memberi solusi tanpa menghakimi, selalu sabar akan segala keegoisan yang ada pada diriku.
Untuk kalian yang pernah bilang bahwa dia tak cocok bersanding denganku. Dia memang bukan orang yang sempurna, tetapi dia tahu cara memperlakukanku dengan sempurna. Percayalah, untuk saat ini dan mungkin selamanya dia akan tetap menjadi yang terbaik. Di antara laki-laki yang pernah mencoba mendekati, hanya dialah yang mampu memberi bukti, bukan sekadar janji.
Aku tak tahu pasti yang namanya takdir. Tapi jika boleh meminta. Aku akan memilihnya sebagai takdirku. Namun, jika takdir tak memihak kepadaku, aku yakin Sang Mahapasti akan menyiapkan lebih dari itu.
Apakah nanti kita akan berjodoh? Apakah dia memang benar-benar takdirku? Tunggu saja episode selanjutnya, biar waktu yang akan menjawab ke depannya seperti apa. Yang penting aamin-in aja dulu.
yang terbaik untuk Mba
BalasHapusIya, Kakš„°
Hapus