Ketika Takdir Menyapa
![]() |
Setiap bakda subuh terdengar sayup-sayup para santri melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an di setiap penjuru ruangan. Di sinilah para santri dari pelosok negeri menimba ilmu. Selain belajar mengaji di Pondok, ada juga santri yang menempuh pendidikan umum, mulai dari sekolah dasar hingga bangku perkuliahan.
Namaku Alina Fadhila, takdir yang membawaku ke penjara suci ini. Banyak pelajaran hidup yang aku temui, mulai dari disiplin, hidup hemat, hingga rindu yang tak terbendung untuk kedua orang tua.
Beruntung, di sini aku mempunyai sahabat yang selalu menghibur. Namanya Alisha, gadis yang selalu ceria seakan tak pernah dirundung lara.
Di sini semua sama. Hidup jauh dari keluarga. Setahun hanya bisa pulang dua hingga tiga kali saja, saat libur sekolah dan hari raya tiba. Kejam? tidak. Itu sudah menjadi konsekwensi kami ketika pertama kali menginjakkan kaki di Pondok Pesantren.
"Eh, Lin iku lho, Kang seng wingi nitip salam kanggo awakmu," tunjuk Lisa pada Kang Pondok yang kebetulan lewat dari arah dapur ndalem.
"Heh, ngawur kamu Lis. Mana mungkin dia nitip salam buat aku," sahutku.
"Ya mungkinlah, kamunya aja yang ndak peka-peka. Dari dulu loh, Kang Jamal itu suka sama kamu," ujarnya meyakinkanku.
Rumah yang Pak Kyai dan Bu Nyai tinggali disebut ndalem. santri yang ikut ndalem bertugas membantu keluarga Pak Kyai dalam urusan bersih-bersih serta menyiapkan makan untuk para santri. Tidak ada gaji berupa materi, ini semua diniatkan untuk ngalap barokah keluarga ndalem.
Sebenarnya aku juga ingin jadi santri ndalem, tetapi nggak dibolehin sama Ibuk, katanya terlalu berat untuk aku yang badannya ringkih, atau gampang sakit.
"Wes, gausah neko-neko. Wong ngaji karo sekolah wae sambat, apalagi mau ikut jadi arek ndalem," ujar Ibuk kala itu.
***
Sore harinya setelah bersih-bersih sepulang dari sekolah kami semua diwajibkan mengaji kitab. Dalam seminggu cuma libur satu hari yaitu di hari Jum'at. Sebelum masuk jam pelajaran biasanya aku suka menyendiri di balkon untuk melancarkan hafalan nadzom.
"Lin, Lin. Ini, Kang Jamal tadi nitip surat untuk kamu. Jangan lupa dibalas. Gapapa deh kalau aku jadi kurir pengantar surat, asal nanti ada pajaknya yo." Serentetan kalimat dari Lisa yang mengagetkanku.
"Ngageti wae kamu, Lis. Wes to, opo ndak capek dari tadi nyerocos terus," seruku padanya.
"Hihihi, yo maafkan sahabatmu yang cerewet ini, Lin. Cepetan buka, Lin aku penasaran sama isinya."
"Huss, ndak boleh kepo. Ayo masuk kelas. Ini udah mau jam pelajarannya Pak Ali loh, nanti kita ditakzir (dihukum) lagi kalau terlambat," ujarku sambil berjalan ke arah kelas.
"Kamu itu ya, Lin," gerutunya yang kubalas dengan gelak tawa.
****
Untuk Alina Fadhila.
Assalamualaikum, ya Humairahku .
Maafkan aku yang begitu lancang mengagumimu.
Maafkan aku yang diam-diam memendam rasa padamu.
Maafkan aku yang begitu lancang menyebutmu dalam doaku.
Memang selama ini aku tak pernah bertegur sapa denganmu. Tapi, percayalah rasaku padamu tiada ragu.
Jika engkau bersedia, setelah kau lulus nanti aku berencana memintamu pada Ayahmu. InsyaaAllah.
Salam hangat.
Muhammad Jamaluddin
Aku menganga tak percaya dengan isi surat dari Kang Jamal. Ternyata selama ini yang dikatan Lisa itu benar. Memang selama ini kita tak pernah bertegur sapa. Lebih tepatnya sih malu-malu kucing. Duh, kok aku jadi deg-deg an gini. Apa jangan-jangan aku juga suka lagi sama Kang Jamal.
“Hayolooooh, kamu ngapain Lin kok bengong begitu. Ntar kesambet loh. Lagi baca surat dari Kang Jamal yo?" tanya Lisa mengagetkanku.
“Kamu itu ya, Lis kayak jalangkung aja. Kerjaannya ngagetin orang.”
"Tahu nggak, Lis ternyata bener katamu tempo hari itu. Kang Jamal suka sama aku. Rencananya setelah lulus sekolah nanti dia mau memintaku pada Bapak, gimana ya, Lis?" lanjutku.
"Ya kamu terima lah, Lin! Gitu aja pake nanya. Nih ya, kapan lagi coba dapet jodoh kayak Kang Jamal. Paket komplit. Udah ganteng, sholeh, santri ndalem pula," jawabnya dengan berapi-api. "Kalau kamu ndak mau kasihkan aku aja, Lin. Aku ndak nolak kok."
'Yee ... ogah, Lis! emangnya barang, dikasih-kasihkan."
“Becanda, Sayang ... yaudah, aku mau packing dulu ya, jangan malem-malem balik ke kamarnya. Nanti kesambet baru tahu rasa."
"Siap, Bosque!"
Besok adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh para santri. Malam ini mereka bersiap-siap packing barang untuk dibawa pulang ke rumah dalam rangka liburan. Malah ada juga yang tidak tidur semalaman karena tak sabar untuk melepas rindu pada keluarga tercinta.
***
Setelah berpamitan dengan kawan-kawan dan juga Pak Kyai aku pulang dijemput oleh bapak. Sesampainya di rumah aku langsung bersih-bersih dan beristirahat di kamar.
Sudah berbulan-bulan lamanya tak merebahkan diri di tempat ternyaman ini. Tiba-tiba aku kepikiran dengan isi surat yang diberikan oleh Kang Jamal. Rasanya, aku ingin membicarakannya sama Bapak dan Ibuk, apalagi ini sudah mendekati pengumuman kelulusan
“Lin, kamu lagi ngapain? Ayo makan dulu, baru nanti dilanjutkan istirahatnya" ujar Ibuk setelah mengetok pintu kamarku.
“Njih, Buk. Sebentar, jawabku.
Sesampainya di meja makan aku menemukan sosok asing yang sedang bercengkrama dengan bapak. Tampak begitu akrab sekali, hingga aku datang tak dihiraukan.
“Hayooo, pada lagi ngomongin Alin nih pasti."
“Waah ... tahu aja kamu. Kenalin, Lin, ini Aldi. Anaknya temen Bapak." Kamipun lalu berkenala
Kami menikmati makanan yang ibu hidangkan. Kalau soal rasa mah jangan ditanya. Pasti juara, lah!
Di sela-sela makan, bapak membuka obrolan. "Rencananya kami mau menjodohkan kalian berdua," ujar bapak seraya memegang pundakku. "Semoga kalian cocok ya...."
Air mata pun luruh seketika. Bagaimana tidak, pastinya titah bapak tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun.
“Bapak sama orang tuanya Nak Aldi sudah menentukan tanggal pernikahan kalian nantinya. Masalah pondok, kemarin sudah Bapak pamitkan kamu ke Pak Kyai. Jadi kamu ndak usah kawatir apa-apa lagi," ujar Bapak padaku.
“Tapi, Pak. Kenapa ndak minta pendapat Alin dulu? Kenapa harus secepat ini juga? Lagian Alin ndak kenal sama dia, kita mau membina rumah tangganya bagimana?
“Wes to, manut. Bapak sama Ibuk tahu yang terbaik untuk kamu, Lin."
"Bapak egois!" Aku berlari ke kamar.
Rasanya kecewa dengan keputusan Bapak dan Ibuk dengan tanpa melibatkan aku sedikit pun.
Bagaimana mungkin aku menikah dengan sosok asing yang tak pernah ku kenal sebelumnya? Bagaimana mungkin aku hidup bersama dengan dia yang tak pernah ku ketahui sifat dan sikapnya?
Apalagi dihatiku sudah terpatri oleh sosok Kang Jamal, sosok yang selalu ku pinta disetiap doa. Namun apalah daya, aku tak bisa membalas pesan maupun perasaannya. Hanya untaian doa yang bisa kupanjatkan untuknya. Hanya untaian rindu yang membelenggu setiap malamku. Hingga tiba akhirnya, hari di mana aku dipersunting oleh lelaki asing yang tak pernah kuimpikan sebelumnya. Ketika takdir menyapa, aku hanya bisa pasrah oleh segala skenario-Nya.

jadi ingat ayat ayat cinta...
BalasHapusNggak rela, kok bisa sih. Kasihan Kang Jamal.
BalasHapusKang Jamal aaaahhhhhh , aku cariin sini deh ah jodohnya
BalasHapusYaahh korban perjodohan yaa..
BalasHapus