Jalan Takdir Aina (7)


Setelah bertanya kepada rekan-rekan guru yang ada di ruangan ini, ternyata mereka juga tidak ada yang tahu asal muasal coklat dan bunga yang berada di atas mejaku tadi. Ah, mungkin saja ada yang lupa naruh, sehingga aku membiarkan benda itu tetap tergeletak di meja. Kali saja, si empunya nanti nyariin.

Teng ... teng ... teng!

Lonceng tanda masuk jam pelajaran sudah berbunyi, aku segera memasuki kelas. Sesampainya di sana, anak-anak sudah duduk dengan rapi di tempatnya masing-masing. 

Ah, indahnya pemandangan ini. Jadi ingat, dulu waktu SD, Pak Yatno–wali kelasku tidak akan memulai pembelajaran, jika murid-muridnya belum berpakaian rapi dan duduk di kursi masing-masing.

Sebelum memulai pelajaran, kami membaca doa bersama-sama agar senantiasa diberikan kelancaran dan keberkahan dalam mencari ilmu di pagi hari ini.

Pembelajaran kali ini, mengenai sedekah. Suatu kebahagiaan, karena mereka terlihat sangat antusias sekali dalam menyimak pembelajaran yang telah kujelaskan. Beberapa dari mereka pun aktif bertanya, dengan segala celoteh khasnya anak-anak. Kadang saja, aku sampai dibuat bingung untuk menjawabnya.

Hikmah yang didapat dari pembelajaran kali ini, kami semua sepakat untuk melaksanakan sedekah makanan setiap satu minggu sekali, dilaksanakan pada hari Jum'at. Setiap anak membawa minimal satu bungkus nasi untuk ditaruh di gerobak sedekah, di masjid samping sekolah.

"Bu, kalau bawa lebih dari satu boleh nggak?" tanya Asih –muridku dengan sangat antusias.

"Boleh banget, mau bawa berapa pun juga boleh, ya, anak-anak. Semakin banyak yang kita bawa, maka akan semakin banyak juga orang-orang yang terbantu," jelasku. 

Aku juga memperingatkan, untuk izin kepada orang tua terlebih dahulu. Syukur-syukur diizinkan, sehingga menjadi salah satu kegiatan positif yang dilakukan oleh anak-anak. Kalau tidak diizinkan juga tidak apa-apa, karena memang ini adalah program sedekah.

Teng ... teng ... teng!

Lonceng sudah berbunyi kembali, tandanya jam mengajarku di kelas ini selama dua jam sudah habis. Akhirnya, kami menutup pembelajaran ini dengan berdoa bersama-sama. 

Karena dua jam ke depan nggak ada jadwal mengajar, aku langsung bergegas menuju ruang kantor, mengingat bahwasannya aku belum menyiapkan tugas berupa makalah untuk dipresentasikan nanti malam di depan semua mahasiswa satu kelas.

Yups, nanti malam aku ada jadwal kuliah. mulai dari jam 18.30 - 21.00. Aku mengambil kelas malam, agar bisa melakukan banyak kegiatan dalam satu hari. Dan ini sudah berlangsung dari semester satu hingga semester empat ini.

Kalau dibilang capek, ya tentu capek. Tapi ini kan sudah konsekuensi dari sebuah keputusanku. Toh, kuliahnya juga nggak setiap hari, hanya dua kali dalam seminggu. Jadinya, ya, nggak sibuk-sibuk amat lah. Ha-ha-ha.

"Sibuk, ya, Ai?" tanya Mas Panji mengagetkanku saat terlalu fokus menghadap ke layar laptop.

"Eh, Mas, nggak kok, ini lagi ngerjain makalah, Mas, tapi udah selesai," jelasku dengan menunjukkan layar laptop kepadanya.

"Mau dipresentasikan kapan, Ai?" 

"Nanti malam, Mas," jawabku.

"Jadi tergolong kaum deadliners kamu, ya," ejeknya disertai gelak tawa.

"Jangan remehkan kaum deadliners ketika lagi mengepakkan sayapnya, loh, Mas. Ngeri!"

Kami bersenda gurau dengan begitu asiknya. Hingga tak terasa, jam makan siang sudah di depan mata.

"Makan siang, yuk, Ai," ajak Mas Panji sambil melihat arloji di pergelangan tangannya. "Ada tempat makan baru di sekitar sini. Kebetulan, aku belum nyobain."

"Duh, maaf banget, Mas, aku udah ada janji mau makan bareng sama seseorang. Lain kali aja, ya, Mas," jelasku seraya menangkupkan tangan. 

"Oke, deh, nggak papa, Ai. Tenang." Aku menatapnya, dibalas dengan senyuman yang kelihatan seperti terpaksa. Ia pun berlalu ke meja kerjanya.

Secepat kilat, aku segera memasukkan barang-barangku ke dalam tas. Mataku berporos pada cokelat dan bunga yang berada di atas meja. Ah, apa ku tinggal aja, ya? Coba ki tanya Mas Panji dulu, deh, kali aja dia ngelihat oranh yang naruh benda ini tadi di sini.

"Mas, tahu nggak ini milik siapa? Soalnya dari tadi pagi, ada di mejaku," tanyaku sembari memperlihatkan cokelat dan bunga kepadanya.

"Kalau ada di mejamu, berarti itu milikmu, Ai," jawabnya dengan singkat.

"Aku nggak ngerasa beli ini, Mas!"

"Udah makan aja. Ntar kalau ada apa-apa, aku yang tanggung deh." Baiklah kalau begitu, aku pun memasukkan dua benda ini ke dalam tas.

"Itu dari penggemar beratmu, Ai," ucapnya sambil berlalu keluar dari ruangan.

Bentar, bentar. Lhoh, kok, Mas Panji tahu dari mana kalau ini dari penggemarku? Apa jangan-jangan dialah orang yang dimaksud sebagai penggemarku? Duh, tambah pusing ni pala berbie!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Takdir Aina (8)

Nasihat Simbah

Gara-gara Barang Diskonan