Jalan Takdir Aina (3)
"Duh ... kalau jalan lihat-lihat, dong! Saya jadi jatuh, 'kan!" omelku pada seseorang yang menabrakku tadi.
"Lhah, salah Mbaknya tadi pakai ngalamun di tengah jalan, jadinya ketabrak, deh," sanggahnya.
Niat hati ingin olahraga, biar punya body goals kayak Syahrini, malah ditabrak orang. Mana orangnya nggak mau disalahin lagi. Padahal tahu sendiri kan, kalau wanita itu selalu benar! Ya, nggak? Ha-ha-ha.
Kalaupun mau ngomel-ngomel pun juga sia-sia. Habis tenagaku nanti. Mendingan, aku sarapan sotonya Mang Ujang aja, deh. Buat amunisi pagi ini.
"Eh, Mbak, Mbak, tunggu dulu."
"Ada apa lagi, sih, Mas. Lagian saya nggak minta tanggung jawab juga, kok. Udah ah, minggir, saya laper nih," jelasku pada Mas yang nabrak tadi.
"Ayo kita obatin dulu kakimu. Nanti infeksi, loh."
"Udah, nggak papa ini mah. Cuma lecet dikit doang."
"Ya sudah, sebagai permintaan maaf saya, mau nggak kalau saya traktir kamu makan?"
Aku berpikir sejenak. "Tawaran yang menarik! Oke, untuk dua mangkuk soto, akan kumaafkan," jawabku lalu mengajaknya menuju gerobak sotonya Mang Ujang.
Setelah menunggu antrian yang begitu panjang, akhirnya pesanan pun datang juga.
"Alhamdulillah, sekarang udah ada gandengannya, ya, Neng?" tanya Mang Ujang sembari meletakkan dua mangkok soto di depan kami.
"Truk kali, Mang, gandengan," jawabku dengan tertawa.
Di sela-sela makan, aku pun berbincang-bincang dengan Mas Panji–orang yang menabrakku tadi. Ternyata, dia berprofesi sebagai guru olahraga di salah satu sekolah dekat sini.
Setelah dua mangkuk soto bikinan Mang Ujang, tandas tak bersisa. Aku pun pamit pulang pada Mas Panji. Dia pun menyodorkan HP nya padaku.
"Mau nggadaikan HP, Mas? Mohon maaf, ya, saya bukan tempat pegadaian."
"Saya minta nomor kamu. Nanti kalau mau jajanin kamu soto 'kan gampang ngehubunginnya." Modus banget, sih, tapi nggak papa deh ku kasih aja, lumayan kan kalau sering dapat tlaktiran.
Dia sempat memaksa ingin mengantarku pulang juga, karena nggak tega melihatku jalan dengan sedikit pincang. Tetapi ku tolak mentah-mentah. Apa kata tetangga nanti, kalau aku pulang diantar lelaki. Ntar digosipin yang enggak-enggak lagi.
"Astagfirullah, ini kamu kenapa, Ai?" tanya Mami saat melihatku memasuki rumah. Aku pun merebahkan diri di sofa.
"Panjang ceritanya, Mam. Kalau dikisahin, tebelnya kayak novel karyanya Yeni Astuti itu. Sakit kalau dibuat nimpuk orang," jelasku.
Aduh! Kepalaku malah kena sasaran toyoran Mami lagi. Nasib dah ah!
"Ditanyain orang tua, malah becanda aja. Makanya hati-hati, jangan ceroboh jadi orang. Begini kan, akibatnya."
Mami pun, membersihkan luka dan mengompres bagian yang memar di kakiku dengan es batu.
"Makasih, ya, Mam, udah ngerawat Aina dari kecil. Udah sayang sama Aina. Maafin Aina, belum bisa bahagiain Mami. Makasih, Supergirl ku," ucapku sambil memeluk dan mencium Mami.
"Aina adalah kebanggaan Mami. Sumber bahagia Mami. Mami juga mau bilang makasih, Nak. Maaf, selama ini belum bisa memberikan kehidupan yang layak untuk kamu," tutur Mami dengan berlinang air mata.
"Udah lebih dari kata layak. Sehat selalu, ya, Mi. Jangan capek-capek kerjanya. Kan sekarang, Aina udah dapet kerjaan juga."
Besok adalah hari pertamaku Mengajar sebagai guru honorer di salah satu sekolah menengah kejuruan di kotaku. Deg-degan? Pasti. Apalagi ini adalah pertama kalinya mengajar.
Penasaran sama cerita selanjutnya nggak?
Bersambung....
Komentar
Posting Komentar