Jalan Takdir Aina (4)
Jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Aku pun bergegas untuk berangkat ke sekolah, aku tidak mau meninggalkan kesan buruk karena terlambat masuk sebab ini baru pertama kalinya mengajar.
Jarak dari rumah ke sekolah cukup dekat. Hanya sekitar sepuluh menit saja dengan mengendarai motor butut kesayanganku.
Kesan pertama saat mengajar di kelas untuk pertama kalinya, cukup mengasyikkan. Berbagai macam karakter anak, membuatku harus cukup sabar dalam menghadapinya.
"Aina, kamu ngajar di sini juga?" tanya Mas Panji saat aku berada di ruang guru.
"Eh, Mas Panjul. Iya, Mas, ini baru hari pertama ngajar," jelasku.
"Panji, Ai, bukan Panjul," jelasnya diiringi sebuah senyuman, sehingga menampakkan gigi gingsulnya. Manis juga, kalau dilihat-lihat *eh!
"Kenapa nggak bales chatku?" Tanyanya lagi.
"Em, anu, itu, Mas," ucapku sambil menggaruk kepala yang tak gatal. "Belum sempat, tadi malam juga ketiduran," jelasku.
"Kamu lucu, Ai. Gimana aku nggak tambah suka coba," tuturnya sambil berlalu.
What? Dia bilang apa tadi? Duh, jangan bikin kaum jomlo akut ini ke-ge-er-an deh!
"Bagaimana, Bu Aina. Apakah anak-anak bisa dikondisikan?" tanya Pak Yandi –Kepala Sekolah saat memasuki ruang guru.
"Alhamdulillah, bisa, Pak. Mereka anak-anak yang penurut kok," jawabku.
"Semoga betah mengajar di sini, ya, Bu. Saya tinggal dulu," pamitnya.
***
"Ai, tolong beliin cabai di warungnya Mpok Romlah!" perintah Mami setengah berteriak.
"Bukannya tadi pagi udah beli, Mi?" Tanyaku memastikan.
"Jatuh kali, Ai, Mami cariin dari tadi nggak ketemu-ketemu," jelasnya sembari membolak-balikkan tas belanjaannya.
"Ya udah, kembarannya Syahrini mau berangkat ke warungnya Mpok Romlah dulu, Mam," pamitku seraya melambaikan tangan bak model papan atas.
Belum sampai di warung, perasaanku udah nggak enak aja nih, gara-gara ngelihat geng Trio Wekwek (Bu Minah, Bu Ijah, dan Bu Tinah) lagi gosip di sana.
"Eh, Aina. Mau beli apa, Ai?" tanya Bu Minah, saat aku memasuki pelataran warung.
"Mau beli cabai, Bu Minah," jawabku dengan ramah.
"Kapan nikah, Ai, betah banget sama status jomblonya? Kagak laku, ya?" ejeknya.
"Kayak anak saya, dong, baru umur 17 tahun udah nikah. Dapet suami PNS pula," pamer Bu Ijah padaku.
"Bukannya nikah karena hamil duluan, ya, Bu?" Tanyaku dengan nada sedikit mengejek. Habisnya geregetan bin kesel, dikatain kagak laku mulu.
"Alhamdulillah, saya belum nikah mah, karena belum ditemuin sama jodohnya, Bu. Lagi pula kan saya masih muda, baru umur 23 tahun loh, Bu. Masih tergolong umur yang produktif itu, Bu," lanjutku.
Bu ijah pun malu. Mukanya memerah. Mungkin dia akan mengira bahwa aku akan diam saja. Dulu, memang iya. Tapi sekarang? Tentu tidak!
"Awas kamu, ya, Ai. Saya sumpahin kamu biar jadi perawan tua!" ucap Bu Ijah sembari menunjuk-nunjuk mukaku.
Aku pun dengan santainya, melenggang pergi. Bodo amat lah, dengan kata-kata orang yang nggak ada pengaruh baiknya untukku. Nambah-nambahin beban pikiran aja. Mending hempaskan, deh!
"Pulang dari warung, kok, mukanya ditekuk gitu, Nak, ada apa?" Tanya Mami.
"Biasa lah, Mi, tadi ketemu Geng Trio Wekwek di warung," jawabku.
Mami pasti sudah paham, kalau yang dibahas paling ujung-ujungnya ya soal jodoh. Jadi, Mami tak ingin ikut menanggapinya. Kalau sudah waktunya mah, pasti bakal ketemu juga.
Apasih yang diburu soal nikah? Padahal 'kan, nikah itu isinya bukan hanya kebahagiaan saja, tetapi juga pasti ada cobaannya. Lebih berat pula, maka dari itu aku nggak mau terburu-buru. Aku ingin mempersiapkan diri dulu, sembari belajar mendalami ilmu agama, supaya nanti aku sudah mempunyai bekal untuk menjalani hiruk pikuk rumah tangga.
Apalagi kan, seorang ibu itu menjadi madrasah utama bagi anak-anaknya, jadi kurasa, aku harus jadi ibu yang cerdas bagi anak-anakku nanti. Maka dari itu, butuh persiapan yang matang, sebelum tiba waktunya nanti. Di saat yang tepat, bersama orang yang tepat pula.
Apalagi, melihat pengalaman Mami yang ditinggalin Papi begitu saja, rasanya membuatku enggan untuk segera menapaki rumah tangga.
Untuk menghidupi dan membiayai sekolahku, Mami pontang-panting membuka usaha jualan kue, catering dan Frozen Food. Usaha ini, sudah berjalan sejak aku masih kecil. Menurut cerita Mami, usahanya pernah berkembang pesat hingga memiliki tiga toko kue. Akan tetapi, nahas, beliau ditipu oleh rekan kerjanya sendiri, hingga menyisakan hutang puluhan juta.
Setelah beberapa bulan pontang-panting menjajal pekerjaan sebagai asisten rumah tangga, buruh pabrik, tukang laundry keliling. Akhirnya Mami memutuskan untuk berjualan kue lagi. Dengan modal dan bahan-bahan seadanya, Mami bisa bangkit melewati itu semua.
Walaupun sampai sekarang belum memiliki toko kue, alhamdulillah dagangan Mami termasuk laris. ebanyakan dibeli secara online, berkat rajin ngiklanin di media sosial.
"Udah, nggak usah bantuin, Ai. Buruan sana siap-siap, nanti anak-anak madin nungguinnya kelamaan lagi," cegah Mami saat aku ingin membantu pekerjaannya.
"Baiklah, Mam. Jangan terlalu diforsir, kalau capek istirahat. 'Kan sekarang udah ada Mbak Indah–karyawan Mami yang bantuin," tuturku.
"Iya, anakku sayang," jawabnya lalu menciumiku. Duh, serasa kayak masih bayi aku tu!
Komentar
Posting Komentar