Jalan Takdir Aina (1)


"Permisi ... pakeeet!" teriak Mas Kurir.

"Ashiaaap," jawabku sambil membukakan pintu rumah.

Aku pun menerima paket itu dengan senang hati. Mas Kurir pun memfotonya sebagai tanda bukti. Masa bodoh lah, sama penampilanku yang awut-awutan. Salah sendiri, pas aku lagi dandan cantik, dia nggak datang. Eh, giliran pas lagi burik, dia datang. Kan kasihan, kalau ada yang sawan pas ngelihat foto penampakanku sewaktu nerima paket.

Aku pun membukanya. Akhirnya ... penantian selama tiga hari rasanya tidak sia-sia. Sebab barang yang ku terima, cukup memuaskan.

"Hem ... hem," suara bariton itu mengejutkanku.

"Eh, Mas Kurir, masih ada di sini. Kok nggak pulang-pulang, Mas? Ntar dikira Bang Thoyib, loh," tanyaku setengah mencairkan suasana.

"Gimana saya mau pulang, Mbak. Mbaknya belum bayar paketnya," jawabnya dengan tertawa.

Duh, gara-gara saking senengnya paket datang, jadi lupa bayar. Tengsin banget 'kan jadinya. Untung Mas Kurirnya ganteng *eh!

"Ini, Mas. Maaf, ya, kelupaan. Saking semangatnya unboxing tadi," ucapku seraya memberikan uang.

"Gapapa, Mbak. Makasih. Lain waktu, pakai ekspedisi ini lagi, ya, Mbak. Biar ketemu saya lagi," ujarnya seraya berpamitan.

Aku langsung melanjutkan pekerjaan rumah, sebelum Kanjeng Mami pulang dari pengajian ibu-ibu komplek. Kalau sampai belum selesai, ya kalian tahu sendiri lah akibatnya, pasti bakalan merepet ngalahin suara toa masjid depan rumah.

"Ainaaa ... apalagi ini yang kau beli?" Teriak Mami dari ruang tamu.

"Ya Allah, Mami, dateng-dateng bukannya ngucap salam, malah merepet," jawabku dengan santai.

Setiap bulan, pasti ada event diskon besar-besaran dari aplikasi belanja online, dan itu menjadi sebuah godaan terberat bagi kaum-kaum sepertiku.

Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan kecebur got juga. Padahal bungkus paket yang udah aku unboxing, udah ku simpen di tempat yang sekiranya aman. Etapi, ternyata sama aja, tetep ketahuan sama Kanjeng Mami. Fix, uang jajan bakalan dipangkas lagi ini mah!

****

Namaku, Aina Febriana. Lahir di bulan Februari. Kata Mami, sih, lahirnya barengan sama kambingnya Pak Agus—tetanggaku. Udah, jangan kaget, aku udah terbiasa dinistakan dari kecil memang dah ah.

Tetapi, walaupun begitu aku tetep sayang banget sama mami. Kami ditinggal oleh Ayah sejak aku berumur tiga bulan. Tega banget, ya, mana perginya gara-gara pelakor lagi. Makanya, akutu paling gedeg kalau ada yang jadi pelakor. Pengen ikut ngebantai aja hawanya. Ha-ha-ha.

[Malam, Mbak Aina. Mohon maaf, paketnya saya antar besok, ya, Mbak. Soalnya waktunya nggak cukup] pesan dari aplikasi hijau, yang ku duga dari Mas Kurir.

Setelah ku lihat foto profilnya, nah 'kan bener. Ini chat dari Mas Kurir yang kemarin.

[Malam juga, Mas. Iya, nggak papa, santuy aja kali, Mas] balasku.

Setelah basa-basi saling berbalas pesan, ku harap kita saling berbalas perasaan *eh. Efek jomlo kelamaan mah gini, baru chat-an sebentar aja udah nyaman.

Mana sampai di umur 23 tahun ini belum dapat jodoh, dikatain emak-emak komplek udah prawan tua pula. Pernah sampai dijodoh-jodohkan, mending kalau dijodohinnya sama pemuda ganteng, mapan, kaya raya. Lhah ini, jodohinnya sama Pak Jono, duda kampung sebelah, anaknya lima pula. Ampun dah ah!

Bersambung ....

Komentar

  1. Hahaha, yaatuhlah siapa yg ga mau dijodohin ama yg ganteng sholeh tajir pinter😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener Kak. Paket komplit soalnya🤣

      Hapus
    2. terima bersih ya kak. udah jadi aja.
      ceritanya seru, rika kebuka bag 5 awalnya. karna seru dan asyik bahasanya jadi pengen ngikuti episode 1 nya.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Takdir Aina (8)

Nasihat Simbah

Gara-gara Barang Diskonan