Jalan Takdir Aina (6)
Setelah menghabiskan dua porsi nasi goreng dan satu porsi batagor, Mas Kurir mengantarkanku pulang. Entah kenapa, suasananya malah menjadi begitu canggung di bandingkan sebelumnya.
Mas Kurir memutar lagu To The Bone sebagai pemecah keheningan malam ini. Tak terasa, kami sudah sampai di rumah. Setelah mengucapkan terima kasih, aku pun pamit masuk ke rumah, udah malem juga kan ya.
"Tunggu dulu, Ai, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ujarnya sembari menggenggam tanganku. Aku secepat kilat melepaskan genggamannya.
"Belum mahrom, Mas, kalau mau pegang-pegang halalin dulu," jawabku dengan cengengesan. "Mau ngomong apa, Mas?" Lanjutku.
"Ya udah, ayok nikah aja kalau gitu," lontarnya seraya menatapku.
Aku bengong, menatapnya tak percaya, "Prank nih, pasti," ujarku untuk menutupi kegugupan.
"Aku serius, Ai. Nggak becanda. Kalau kamu mau, besok aku bakal bawa keluargaku untuk melamar kamu."
Oksigen mana, oksigen? Kayaknya aku butuh napas tambahan. Syok aku, kalau tiba-tiba diajak nikah gini.
"Ma-mami gimana nanti?" Tanyaku dengan terbata-bata.
"Aku udah bilang kok, ke Mami tadi, dia pasrahin semuanya ke kamu." Mas Kuris menatapku dalam-dalam,"aku nggak bakalan maksa kamu, karena ini menyangkut hal yang serius. Istikharah dulu aja, yakinin hati kamu. Aku bakal siap dengan semua keputusanmu," lanjutnya.
Aku bingung harus bilang apa. Tanpa berkata apa-apa, aku berlari memasuki rumah. Sudah cukup, syok terapi untuk hari ini, Gusti Allah.
Ketukan pintu terdengar. Mami masuk ke dalam kamarku dengan membawa segelas teh hangat.
"Gimana tadi acara kencannya, lancar?" Tanya Mami.
"Apaan sih, Mi, siapa juga yang kencan," ucapku seraya merebahkan diri di kasur.
"Nak Aldi tadi udah bicara sama Mami. Dia berniat menjalin hubungan yang serius sama kamu," ujarnya sambil mengelus rambut kepalaku,"Semua keputusan, ada di tangan kamu, Nak. Mami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian." lanjutnya.
Oiya, namanya Mas Kurir itu Aldi. Sebenarnya, akupun juga baru tahu tadi, sih. Toh dia juga nggak masalah kalau aku manggilnya pakai sebutan Mas Kurir, karena udah terbiasa.
"Aina belum bisa kasih keputusan apa-apa, Mi," jawabku seraya membenamkan wajah ke bantal.
"Salat istikharah, Nak, minta petunjuk sama Gusti Allah," saran Mami. Lalu ia mengecup keningku dan keluar dari kamarku.
Aku memang ingin menikah, tetapi sewaktu ada yang ngajakin nikah kok ya aku keder sendiri. Sesuai saran mami, aku pun melaksanakan salat istikharah. Mudah-mudahan Allah memberikan sebuah petunjuk yang terbaik untukku.
[Mas, besok ketemu bisa?] Pesanku pada Mas Kurir.
[Kangen, ya, Ai? hehehe, Bisa kok. Jam berapa?] tanyanya.
Duh, pede banget sih, Mas!
[Setelah aku pulang ngajar, ya, Mas. Kira-kira jam 12.40]
[Mau ku jemput, Ai?]
[Nggak usah, Mas. Kita ketemu di warung mie ayam tenda biru aja, ya] ajakku ke tempat besok.
[Oke, Ai. Sampai ketemu besok] balas Mas Kurir dengan menyematkan emoticon love pada akhir pesan.
Ya Tuhan, bikin anak orang tambah meleleh aja sih!
Sudah berjam-jam mencoba memejamkan mata, agar bisa tidur, tapi hasilnya nihil.
"Astagfirullah, Ai, cosplay jadi panda kamu, Nak?" Tanya Mami saat melihatku keluar kamar di pagi hari dengan keadaan acak-acakan.
"Tau ah, Mam, Ai pusing, nggak tidur dari semalam." Aku pun berlalu untuk mandi dan siap-siap berangkat ngajar ke sekolah.
***
Berangkat mengajar pagi ini, tak se-semangat hari-hari sebelumnya. Setelah memarkirkan motor, aku berjalan dengan langkah gontai ke arah kantor.
Brak!
Tubuhku jatuh. Buku-buku menjadi berserakan.
"Hobby banget tabrakan, ya, Ai? Lain kali, kalau jalan jangan sambil ngalamun, ya, mikirin apa sih?" Tanya Mas Panji sembari membereskan buku-buku yang bercecer karena ku tabrak tadi.
"Mikirin kamu," jawabku dengan asal,"Maaf, ya, Mas. Aku nggak sengaja tadi," ujarku sambil membantu menyusun buku-buku yang terjatuh.
"Beneran lagi mikirin saya, Ai?" Tanya Mas Panji Duh, salah ngomong lagi nih aku. Tamat riwayatku kalau sampai anak orang ku bikin baper lagi.
"Aku masuk ke kantor dulu, ya, Mas," ujarku dengan jalan terburu-buru.
Sesampainya di ruangan, tergeletak setangkai mawar merah dan sebungkus coklat Silver Queen dengan ukuran jumbo di atas mejaku. Wah ... jangan-jangan, ada yang diam-diam nge-fans sama aku nih. Duh, bikin bidadari tambah melayang aja deh!
Hahaha, tingkah Aina bikin mulessss
BalasHapusBisa2nya udah dilamar masih bikin baper anak orang
Ai, jangan bikin semua jadi baper dong, yang jelas aja.
BalasHapus