Nasi Berkat (2)
"Dek, Maaf ya, Mas baru bisa ngasih segini," ujar Mas Arman sambil menyodorkan beberapa lembar uang berwarna biru.
"Iya, Mas, ndak papa. Rezeki kita baru segini. Disyukuri aja," jawabku, lalu menyimpan uang itu di dompet.
Mas Arman merebahkan diri di kasur tipis, hadiah pernikahan dua tahun silam. Aku pun memijit pundaknya, agar otot-ototnya sedikit melemas.
"Ya Allah, Mas, badanmu kok panas. Kalau sakit itu mbok ya bilang. Ayo, pergi ke dokter!" ajakku.
"Nggak usah, Dek, nggak papa. Ini cuma masuk angin biasa. Ntar dipijit juga sembuh."
Mas Arman ini memang keras kepala. Selalu saja terlihat tegar di depan kami, walaupun kenyataannya sering sebaliknya. Pintaku pun tak diindahkan. Walhasil, sebagai penawar rasa sakitnya, aku membelikannya obat di warung Mak Ijah.
"Beli apa, Tin?"
"Beli Ant*ngin, beras 5 kg, dan telur 1 kg, ya, Mak," jawabku. Mak Ijah pun dengan sigap menyiapkan pesananku.
"Tumben borong, Tin, suamimu baru pulang, ya?" tanya Mak Ijah sembari menyodorkan satu kresek penuh pesananku tadi.
"Alhamdulillah, iya, Mak. Ini buat stok beberapa hari ke depan."
"Alhamdulillah ... semoga dilancarkan rezekinya, ya, Tin," ujarnya sambil menepuk pundakku. Aku pun mengucapkan terima kasih, dan meng-amininya.
Setelah membayar, aku pun pamit pulang dengan berjalan tergesa-gesa, sebab mendung dan petir telah menampakkan kilatnya. Syukurlah, hujan tiba di saat aku sudah menginjakkan kaki di pelataran rumah.
"Ibu beli apa?" tanya Lila saat aku mengeluarkan belanjaan dari kantong kresek.
"Ini, Nduk, beli beras, telur, sama obatnya bapak. Ini tolong kasihkan ke bapak, ya, suruh minum biar badannya sedikit enakan."
"Bapak sakit apa, Bu?"
"Masuk angin, Nduk, mungkin karena kecapekan. Udah, buruan sana, kasihan bapak, loh, ibu mau buatin teh anget dulu. Lila juga mau ndak?" tawarku.
"Enggak deh, Bu. Tapi kalau susu anget mau," jawabnya sambil nyengir. Ada-ada saja ini anak.
Aku pun menelisik tempat penyimpanan bahan dapur, kali saja masih ada stoknya. Setelah beberapa menit, akhirnya aku menemukan satu bungkus susu sachet rasa cokelat kesukaan Lila. Alhamdulillah.
Dua gelas teh dan susu hangat sudah jadi, aku segera menaruhnya di nampan dan akan membawanya ke kamar. Senda gurau antara bapak dan anak itu terdengar begitu seru dari dapur.
Brak!
Terdengar, pintu didobrak oleh seseorang. "Keluar kamu Arman!" ujarnya dengan berteriak.
Komentar
Posting Komentar