Sebungkus Cilok
Aku duduk bersandar di kursi yang terletak di bawah pohon depan rumahku. Semilir angin, membuat rasa kantuk kian menyerang. Tolit ... tolit ... tolit Bunyi alat pedagang cilok menggema, dengan secepat kilat. Anak-anak yang tadinya bermain bola di lapangan depan rumahku itu mengerumuni penjualnya. Melihat fenomena ini, ingatan getir tentang masa lalu menjadi terungkap, di mana aku dan adikku hanya bisa memperhatikan dari jauh ketika ada teman sebaya kami yang membeli cilok di Akang langganan. Tentu saja, karena kami bukanlah dari keluarga berada. Pada saat itu pula, bapak –tulang punggung keluarga kami sedang sakit. Hanya ibu yang bekerja pontang-panting untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari . Aku pun tak tega, jika harus meminta uang hanya untuk sekadar membeli jajan. Adik yang belum mengerti apa-apa, dengan rewel minta dibelikan cilok juga. "Ayo, masuk ke dalam rumah saja, Dek," ajakku dengan menggandeng tangan mungilnya, sebab tak ingin melihat kejadian ini...