Postingan

Sebungkus Cilok

Gambar
Aku duduk bersandar di kursi yang terletak di bawah pohon depan rumahku. Semilir angin, membuat rasa kantuk kian menyerang. Tolit ... tolit ... tolit Bunyi alat pedagang cilok menggema, dengan secepat kilat. Anak-anak yang tadinya bermain bola di lapangan depan rumahku itu mengerumuni penjualnya. Melihat fenomena ini, ingatan getir tentang masa lalu menjadi terungkap, di mana aku dan adikku hanya bisa memperhatikan dari jauh ketika ada teman sebaya kami yang membeli cilok di Akang langganan. Tentu saja, karena kami bukanlah dari keluarga berada. Pada saat itu pula, bapak –tulang punggung keluarga kami sedang sakit. Hanya ibu yang bekerja pontang-panting untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari . Aku pun tak tega, jika harus meminta uang hanya untuk sekadar membeli jajan. Adik yang belum mengerti apa-apa, dengan rewel minta dibelikan cilok juga. "Ayo, masuk ke dalam rumah saja, Dek," ajakku dengan menggandeng tangan mungilnya, sebab tak ingin melihat kejadian ini...

Kenangan Manis

Gambar
Siapa yang sewaktu kecil suka mandi di sungai bareng teman-teman, tetapi pas pulang dimarahin emak karena basah kuyup? Sebagai anak desa, yang dulunya tidak ada kolam renang di daerah sini, kami menjatuhkan pilihan di sungai sebagai tempat berenang, atau orang-orang di sini menyebutnya dengan istilah kali. Di kali, banyak sekali aktivitas yang dilakukan oleh warga sekitar, ada yang mencuci baju, berenang, memancing, atau bahkan dipergunakan untuk buang air besar. Teringat kejadian masa kecil dulu, aku bersama dengan ke-empat temanku –Nopi, Indah, Samsul, dan Eko senang sekali waktu  berenang-renang  di kali dengan mengikuti arus air. Saking betahnya, kami jadi nggak kerasa kalau sudah nyemplung berjam-jam, hingga perut pun keroncongan minta diisi. Kita semua sepakat, akan mengadakan bakar-bakaran di tepian kali. Kami pun mengerjakan tugas masing-masing, sesuai dengan kesepakatan bersama . Eko yang jago memancing pun, dengan sekejap mendapatkan beberapa ikan. S...

Jangan Menilai Seseorang, Hanya dari Sampulnya

Gambar
"Sudah terkumpul semua, Mbah?" tanyaku memastikan bahwa tak ada sayuran yang tertinggal. Sayuran ini, hasil panen dari kebun milik sendiri. Kami menjual jenis sayuran sesuai musim, dan kali ini, kami menanam sayuran kacang panjang. "Sudah, Nduk, hati-hati, ya. Jangan ngebut, jalanan masih licin." Aku berangkat dengan mengandarai sepeda onthel,  dilengkapi bronjong di boncengan belakang dengan sangat hati-hati, sebab jalanan masih licin karena semalam dilanda hujan lebat. Penerangan pun minim, karena aku berangkat ke pasar setelah subuh. Aku berjualan di Pasar Pagi, menggelar dagangan di lapak dan menunggu pembeli adalah rutinitasku dua bulan terakhir ini. Sebelumnya, simbah yang berjualan, akan tetapi setelah insiden kesrempet motor sewaktu pulang dari pasar, aku tak memperbolehkannya jualan lagi, biar aku saja yang menggantikan. Aku berteriak menawarkan sayuran kepada orang yang berlalu lalang, "Kacang panjangnya, Bu. Murah meriah. Dua ribuan...

Mengapa Menulis?

Gambar
Sebagai manusia yang tak pandai menuturkan cerita melalui lisan, aku memilih bercerita melalui sebuah tulisan. Melalui menulis, aku bisa lebih leluasa dalam mencurahkan segala rasa. Melalui menulis pula, aku akan merasa berada di titik lega. Pertama kalinya masuk ke dalam dunia literasi, aku memulai langkah dengan mengikuti event-event literasi yang betebaran di beranda Facebook. Selang beberapa bulan kemudian, aku bergabung sebagai admin online di salah satu penerbit indie. Sejak bergabung di dalam dunia penerbitan, membuatku menjadi sedikit lebih melek mengenai dunia literasi. Mengingat bahwasannya banyak sekali proses yang harus dilalui, sebelum naskah itu bisa terbit menjadi sebuah buku. Namun sayang sekali, itu tak berlangsung lama. Semenjak pandemi melanda negeri kita tercinta, efeknya sangat kerasa sekali bagi penerbit. Sehingga, mau tak mau, penerbit terpaksa vakum untuk sementara waktu. Untuk mengisi waktu luang, aku mengikuti nubar (nulis bareng) cerpen dan juga m...

Nasi Berkat (1)

Gambar
"Bu, bapak nggak diundang lagi, ya?" tanya Lila sewaktu melihat para kepala keluarga berbondong-bondong pergi ke rumah Pak Sanusi. Di tempat kami, sewaktu bulan Muharram atau bulan Suro, para warga melaksanakan syukuran yang bertepatan di hari weton anggota keluarga tersebut, dan itu sudah menjadi tradisi turun-temurun dari nenek moyang. Wajar saja, keluargaku tidak pernah diundang, karena memang aku tidak pernah melaksanakan syukuran. Bukannya tak ingin, hanya saja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku dan Mas Arman pontang-panting dalam bekerja. "Iya, Nduk. Jangan sedih, ya, kalau Lila pengen nasi berkat, nanti ibu buatkan, ya, kalau ada rezeki lebih," ucapku seraya mengelus rambut putri semata wayangku. "Kita makan dulu, yuk. Tadi ibu sudah masak sayur bayam," lanjutku. Lila berlalu menuju meja makan tanpa menyahut ucapanku. Aku paham betul, pasti ia ingin sekali memakan nasi berkat yang berisi aneka macam lauk yang menggiurkan. Ma...