Nasi Berkat (1)
Di tempat kami, sewaktu bulan Muharram atau bulan Suro, para warga melaksanakan syukuran yang bertepatan di hari weton anggota keluarga tersebut, dan itu sudah menjadi tradisi turun-temurun dari nenek moyang.
Wajar saja, keluargaku tidak pernah diundang, karena memang aku tidak pernah melaksanakan syukuran. Bukannya tak ingin, hanya saja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku dan Mas Arman pontang-panting dalam bekerja.
"Iya, Nduk. Jangan sedih, ya, kalau Lila pengen nasi berkat, nanti ibu buatkan, ya, kalau ada rezeki lebih," ucapku seraya mengelus rambut putri semata wayangku.
"Kita makan dulu, yuk. Tadi ibu sudah masak sayur bayam," lanjutku. Lila berlalu menuju meja makan tanpa menyahut ucapanku. Aku paham betul, pasti ia ingin sekali memakan nasi berkat yang berisi aneka macam lauk yang menggiurkan.
Maafkan ibumu ini, ya, Nduk....
Mas Arman bekerja sebagai kuli di luar kota. Jadi, untuk memangkas biaya transportasi, Mas Arman pulang dua minggu sekali atau bahkan sampai sebulan sekali. Sehingga pulangnya tidak menentu.
Suara ketukan pintu terdengar begitu keras. Aku langsung ke depan untuk membukakan pintu. Mas Arman pulang dengan keadaan lusuh.
"Kok sampai seperti ini, habis ngapain kamu, Mas?" tanyaku penasaran.
"Tadi, aku habis numpang truk isi jerami, Dek, lumayan 'kan, Mas nggak perlu naik bus. Jadi uangnya bisa kita tabung," jawabnya sembari berjalan memasuki rumah. Aku dibuat geleng-geleng kepala mendengar ceritanya.
"Yeeey ... Bapak pulang," ujar Lila dengan kegirangan. Ia berlari memeluk Mas Arman, guna melepaskan rindu yang menggebu.
"Bapak bawa oleh-oleh, loh, buat kamu," ujar Mas Arman dengan menunjukkan satu kantong plastik penuh berwarna hitam. Lila pun semakin kegirangan, saat melihat isinya. Ada dua box nasi berkat di dalamnya.
"Alhamdulillah ... dapet nasi berkat dari mana, Mas?" tanyaku.
"Dari Fahri, Dek, teman SD Mas dulu, kebetulan tadi ketemu di jalan. Jadi, disuruh mampir ke rumahnya. Pas mau pamit mulang, tau-tau malah dibawain berkat."
"Alhamdulillah, ya, Mas. Tadi Lila memang sempat sedih karena ingin makan nasi berkat, gara-gara ngelihat para tetangga syukuran di rumahnya Pak Sanusi. Mas 'kan tahu sendiri, kalau keluarga kita nggak pernah diundang," jelasku.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Doakan saja biar Mas bisa dapat rezeki yang banyak, ya. Supaya nanti bisa ngadain syukuran juga," ujarnya menenangkan.
Setelah Mas Arman membersihkan diri, kami makan nasi berkat itu bersama-sama. Lila tak henti-hentinya, berterima kasih kepada Mas Arman karena telah membawakan nasi berkat, dan juga meminta maaf kepadaku karena sempat mengabaikan ucapanku tadi.
Doakan orang tuamu ini agar selalu diberikan kesehatan, dan juga rejeki yang melimpah, ya, Nduk. Agar bisa membahagiakanmu, meskipun dengan cara yang sangat sederhana.
namanya nasi berkat harusnya jadi berkat buat banyak orang, siapa saja, mengapa dipilih2? hehe semoga keluarga Pak Sanusi selalu diberkati
BalasHapusSeharusnya seperti itu, tapi fenomena ini memang benar ada Kak. Kalau keluarga itu ngga pernah ngadain syukuran, ya nggak pernah diundang juga ๐ข
Hapusowalah, iyakah seperti itu, Kak. seharusnya justru yang belum mampu ya dibagi juga yah..
HapusAku kecil juga perindu nasi berkat mb, kalau ada kendurian pasti nunggu alm. Bapak plg bawa nasi berkat
BalasHapusPokoknya, apapun lauknya nasi berkat itu enaakkk
Apalagi kalau dimakan rame-rame, rasanya tambah nikmat, Kak.
HapusJadi ingat waktu kalau ada kondangan, selalu nunguin berkatan sambil ngebayangin lauknya. Ntar pada duluan dip. Aku dip ayam, atau aku dip telur.
BalasHapusSampai sekarang, saya dan adik saya juga begitu Kak wkwkk
HapusNasi berkat emang selalu ditunggu anak-anak ya. Entah kenapa mereka selalu semangat dengan makanan dari luar. Padahal ya isinya sama jg yang dimakan dirumah. Menarik cerpennya, tulis lanjutannya kak.
BalasHapusKalau kata simbah saya, salah satu hal yang menjadikan nasi berkat nikmat itu karena "mambu dungo"/habis dibacakan doa-doa.
HapusSiap, Kak, InsyaAllah ๐
Waaaa, nasi berkat mengingatkanku semasa kecil dalam penantian Bapak pulang dalam suatu acara. Tapi ya jangan pilah pilih dong pak Sanusi kalo mau mengundang, namanya syukuran ya semua dibagi rata. Hehe... Asik cerpennya, ditunggu kelanjutannya kak Yen๐
BalasHapusKita sama, Mbak wkwk.
HapusSeharusnya sih seperti itu Mbak, semuanya diundang, ya.
Siap, Mbak. InsyaAllah ๐๐
Duh jadi pengen pulang kampung Mba
BalasHapusKalau pandemi udah usai. Langsung gas aja, Kak. Hehe
HapusNasi berkat ini juga dirindukan sekali oleh perantauan seperti orang tua saya loh, Kak. Kalau pas jadwal mudik lebaran ke Jogja dan kami dapat nasi berkat krn ada yang syukuran, pasti langsung diserbu oleh orang tua saya. Di Bekasi sini soalnya adanya malah nasi box ๐
BalasHapusWaah ... pasti tambah seru nih, kalau semuanya pada ikutan nyerbu juga ๐
Hapusceritanya menyentuh banget, Kak.. simple tapi bermakna,,
BalasHapussalam kenal, yaa dari Niah :)
Hallo, Kak Niah. Salam kenal juga, ya. Terima kasih sudah mampir.
HapusBagus kak gue ajarin dong
BalasHapusWaduh, kebalik nih kayaknya, Kak. Harusnya saya yang minta diajarin๐๐
Hapusnasi berkat adalah nasi yang selalu ku tunggu kalau abah ada undangan tasyakuran .:D
BalasHapusWaah, sama Kak. Sampai se-gede ini pun, saya juga masih nungguin nasi berkat, sewaktu bapak pulang dari acara๐
Hapusaku sedih baca ceritanya..., kadang masyarakat memang lebih memangdang ke sesuatunya tanpa mau mengetahui bagaimana alasan yang sebenarnya.
BalasHapusBetul sekali, Kak๐ข
HapusBaca kisah yang kakak tulis jadi Inget inget bapakku, kalau pulang dari undangan atau apapun, selalu bawa berkat bahkan yang harusnya dimakan ditempat malah dibawa pulang buat dimakan bareng dirumah walau harus dibagi-bagi kecil.
BalasHapusRasanya pun, juga jadi lebih nikmat kalau dimakan bareng-bareng, Kak๐
Hapusjadi kepingin nasi berkat mba:)
BalasHapusKe rumahnya Pak Sanusi aja, yuk, kali aja masih ada lebihan nasi berkat wkwkw
HapusNasi berkat tuh jadi inget kkn deh hehe
BalasHapusKayaknya hampir tiap hari dapet ini
Wah, jadi nostalgia ๐
HapusKok saya sedih dengan ceritanya ya kak, nasi berkat itu harusnya jadi berkah jg buat keluarga yang tidak mampu mengadakannya. ๐
BalasHapusSemoga Allah memberikan ke berkahan dalam rezki, umur dan kehidupan hamba yang selalu sabar dan berjuang.
Betul, Kak, seharusnya seperti itu ๐ข Aamiin ya Rabb
HapusIya. Bahkan Sunnah nya saat ada acara mengundang orang kurang mampu. Jadi miris ya melihat fenomena seperti ini
HapusSalut dengan tokoh Arman, sepertinya penyabar, pekerja keras dan sayang keluarga.
BalasHapusJd terharu bacanya
BalasHapusJadi kangen kampung,
BalasHapusVinyl Lantai Rumah Sakit