Postingan

Jalan Takdir Aina (7)

Gambar
Setelah bertanya kepada rekan-rekan guru yang ada di ruangan ini, ternyata mereka juga tidak ada yang tahu asal muasal coklat dan bunga yang berada di atas mejaku tadi. Ah, mungkin saja ada yang lupa naruh, sehingga aku membiarkan benda itu tetap tergeletak di meja. Kali saja, si empunya nanti nyariin. Teng ... teng ... teng! Lonceng tanda masuk jam pelajaran sudah berbunyi, aku segera memasuki kelas. Sesampainya di sana, anak-anak sudah duduk dengan rapi di tempatnya masing-masing.  Ah, indahnya pemandangan ini. Jadi ingat, dulu waktu SD, Pak Yatno–wali kelasku tidak akan memulai pembelajaran, jika murid-muridnya belum berpakaian rapi dan duduk di kursi masing-masing. Sebelum memulai pelajaran, kami membaca doa bersama-sama agar senantiasa diberikan kelancaran dan keberkahan dalam mencari ilmu di pagi hari ini. Pembelajaran kali ini, mengenai sedekah. Suatu kebahagiaan, karena mereka terlihat sangat antusias sekali dalam menyimak pembelajaran yang telah kujelaskan. Beb...

Jalan Takdir Aina (6)

Gambar
Setelah menghabiskan dua porsi nasi goreng dan satu porsi batagor, Mas Kurir mengantarkanku pulang. Entah kenapa, suasananya malah menjadi begitu canggung di bandingkan sebelumnya. Mas Kurir memutar lagu To The Bone sebagai pemecah keheningan malam ini. Tak terasa, kami sudah sampai di rumah. Setelah mengucapkan terima kasih, aku pun pamit masuk ke rumah, udah malem juga kan ya. "Tunggu dulu, Ai, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ujarnya sembari menggenggam tanganku. Aku secepat kilat melepaskan genggamannya. "Belum mahrom, Mas, kalau mau pegang-pegang halalin dulu," jawabku dengan cengengesan. "Mau ngomong apa, Mas?" Lanjutku. "Ya udah, ayok nikah aja kalau gitu," lontarnya seraya menatapku. Aku bengong, menatapnya tak percaya, " Prank nih, pasti," ujarku untuk menutupi kegugupan. "Aku serius, Ai. Nggak becanda. Kalau kamu mau, besok aku bakal bawa keluargaku untuk melamar kamu." Oksigen mana, oksigen? Kayakny...

Jalan Takdir Aina (5)

Gambar
Walaupun bentukanku yang pecicilan kayak begini, kata Mami, aku termasuk penyayang anak-anak. Buktinya, mereka semua baik dan nurut sama aku. Bukan karena terpaksa juga, loh, ya. Di sela-sela mengajari ngaji, aku melihat ada mobil yang memasuki rumahku. Tumben sekali. Kira-kira siapa, ya, yang bertamu sore-sore begini. Jangan-jangan, ada yang mau ngapelin Mami lagi? Ah, beginilah nasibnya, kalau lebih cantikan emaknya dibandingkan dengan anaknya. Serius, Gaess, Mami itu banyak yang naksir. Mulai dari orang biasa hingga pejabat ditolak sama Mami. Pernah suatu kali, aku menyuruh Mami untuk menikah lagi, karena kasihan, biar ada temen buat bertukar cerita selain sama aku. Tapi ujung-ujungnya malah dimarahin. Mami itu memiliki prinsip yang kuat. Menurutnya, menikah hanya dilakukan satu kali dalam seumur hidup. Setelah bercerai, Mami nggak mau mikirin soal menikah lagi, pengennya fokus ngasih kehidupan yang terbaik buat aku.  Banyak hal yang udah dilakuin sama Mami, yang mun...

Dalam Cerpen "Setelah Para Tetua Pergi"

Gambar
Tantangan pada pekan ke empat dalam Komunitas One Day One Post kali ini, saya rasa lumayan berat, karena harus memberikan sebuah opini tentang cerita pendek yang sudah kita pilih. Dari dua pilihan cerita pendek yang disuguhkan, saya memilih cerita pendek yang berjudul "Setelah Para Tetua Pergi" karya dari Achmad Ikhtiar. Tetua merupakan salah seorang tokoh yang dihormati dan disegani pada masanya. Tidak ada seorang pun yang berani membantah titahnya tetua tersebut. Akan tetapi, waktu demi waktu yang kian bergulir, masa itu pasti akan datang. Seperti yang sudah tertulis di buku nubuat ribuan tahun lalu. Entah apa yang dimaksud tentang 'waktunya sudah hampir datang' itu, tetapi saya menangkap bahwasannya harus ada sebuah pengorbanan di sini. Pengorbanan agar tempat yang disebut 'rumah' ini tetap terasa nyaman.  Hingga waktu itu telah tiba, saat mereka diminta untuk menanggalkan pakaian dan pulang ke rumah, lalu diikuti dengan menghilangnya para Tetua...

Jalan Takdir Aina (4)

Gambar
Jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Aku pun bergegas untuk berangkat ke sekolah, aku tidak mau meninggalkan kesan buruk karena terlambat masuk sebab ini baru pertama kalinya mengajar. Jarak dari rumah ke sekolah cukup dekat. Hanya sekitar sepuluh menit saja dengan mengendarai motor butut kesayanganku. Kesan pertama saat mengajar di kelas untuk pertama kalinya, cukup mengasyikkan. Berbagai macam karakter anak, membuatku harus cukup sabar dalam menghadapinya. "Aina, kamu ngajar di sini juga?" tanya Mas Panji saat aku berada di ruang guru. "Eh, Mas Panjul. Iya, Mas, ini baru hari pertama ngajar," jelasku. "Panji, Ai, bukan Panjul," jelasnya diiringi sebuah senyuman, sehingga menampakkan gigi gingsulnya. Manis juga, kalau dilihat-lihat *eh! "Kenapa nggak bales chatku?" Tanyanya lagi. "Em, anu, itu, Mas," ucapku sambil menggaruk kepala yang tak gatal. "Belum sempat, tadi malam juga ketiduran," jelasku. "Kamu lucu, A...