Postingan

Para Pengembala (3)

Gambar
Mbah Sapto menunjuk dua sapi yang sudah diikat di pinggir jalan. "Jonooo ...." teriak Maman dengan begitu kencang. Maman langsung berlari ke arah sapinya. Raut lega pun muncul dari wajahnya. "Lain kali, lebih hati-hati ya, Le." Pesan Mbah Sapto kepada kami. "Terima kasih, ya, Mbah. Kami tadi terlalu panik soalnya," ujar Asep. Mbah Sapto menganggukkan kepala. Asep dan Mbah Sapto berjalan beriringan menuju ke arah tempat diikatnya sapi Maman. Ia memeluk dan mencium sapinya itu dengan rono bahagia. "Nyebut, Man. Sapi pakai diciumi segala. Kalau orang lain liat, bisa dikira edan kamu!" tegur Asep. "Ah, kamu ini, Sep, merusak momen bahagiaku saja," sungutnya. "Terima kasih, ya, Mbah. Untung ada Mbah Sapto yang bawain sapi Maman," lanjutnya. "Iya, sama-sama, Le. Kita ini, harus bisa menguasai situasi. Dalam hal apa pun. Untung saja, tadi sapi mu manut, Le. Kalau nggak, mbah bisa kewalahan tadi pas menggeret dua sapi...

Para Pengembala (2)

Gambar
Byur ... byur ... byur! Semburan lumpur bercampur gas muncul di oro-oro kesongo. Para pengembala pun berlari menyelamatkan diri. Mereka juga sebisa mungkin menyelamatkan hewan-hewan peliharaan mereka. Takut kalau semburan kali ini bervolume besar. Peristiwa ini, warga setempat menyebutnya dengan istilah "ngurdo".  "Man, Man, tunggu," ucap Asep dengan napas tersengal-sengal. Akhirnya, mereka sampai di tempat yang agak jauh dari oro-oro kesongo. "Sik, sik Sep. Sapiku mana, Sep?" tanya Maman dengan raut muka khawatir. "Gawat ini, Sep, bisa didamprat emakku kalau sapiku hilang!" "Woalah, Man ... Man. Gimana sih kamu," gerutu Asep. "Ya namanya juga panik, Sep!" Asep mengibas-ngibaskan kaos di badannya. Dan mengikat sapinya di pohon depan rumahnya Bu Marni. "Assalamualaikum, Bu Mar," ujar Asep dari depan pintu rumah. "Waalaikumussalam. Ada apa, Le?" tanya Bu Marni kepada Asep. "Ini Bu, saya nit...

Para Pengembala (1)

Gambar
"Nanti sore angon sapi lagi ya, Sep," ajak Maman seusai pulang sekolah. Mereka berjalan beriringan di tepi jalan. "Oke, agak sorean, ya, panas, nanti kalau kulitku jadi tambah gosong gimana," jawab Asep. Maman geleng-geleng kepala. "Woalah, Sep ... Sep. Mau kulitmu dibawa keluar atau nggak dibawa keluar juga ya tetep sama aja kayak arang!" Ledek Maman. Mereka berdua tertawa. Ini hanyalah canda, mereka tak pernah sekali pun mempermasalahkannya. *** Sesuai janji tadi siang, mereka berdua menggembala sapi di oro-oro kesongo. Selain mereka, ada juga beberapa masyarakat setempat yang mengembala hewan ternak di situ. Ada kambing, sapi, dan kerbau.  Para pengembala saling berbincang, bertukar cerita dari berbagai macam informasi, sembari mengawasi hewan-hewan yang digembalakan. Oro-oro kesongo ini sangat luas, dan terbagi menjadi tiga bagian, yakni kawasan padang rumput, kawasan rawa, dan yang terakhir kawasan semburan lumpur. Asep dan Maman berjalan ...

Hobby Berjalan, Sekaligus Dapat Cuan

Gambar
Tak terasa, saya sudah mengikuti tantangan One Day One Post sampai pada pekan ke 5. Semoga saja bisa berlanjut ke pekan selanjutnya, ya, meskipun dengan sangat tertatih-tatih *hiks. Di pekan ini, ada yang berbeda dari pekan-pekan sebelumnya, loh, karena kami seluruh peserta diberikan sebuah tantangan untuk menulis di blog sesuai dengan niche. Apasih niche itu? niche blog merupakan sebuah tema atau topik khusus untuk blog kita. Nah, pada pekan ini, saya memutuskan untuk memilih niche fiksi untuk blog saya, dengan menuliskan cerpen (cerita pendek) dan cerbung (cerita bersambung). Tema inilah, yang tentunya akan menjadikan ciri khas saya sebagai "penulis apa''. Hal inilah yang dinamakan personal branding juga. Personal branding mengacu pada proses untuk membangun persona publik seorang penulis untuk para penikmat tulisannya. Dalam hal ini, saya mencoba mendekatkan diri kepada para pembaca, dengan langkah sering berinteraksi di media sosial. Selain itu, hal yang pa...

Semangat yang Tak Pernah Padam

Gambar
Rara menatap nanar bentuk sepatu yang sudah tak layak pakai ini. Bagian sampingnya menganga dan banyak yang terkelupas karena lem nya sudah tak mampu bertahan kuat. "Kok belum berangkat, Dek?" tanya Pipit–kakaknya.  Ia jongkok tepat di hadapan Rara, lalu memeriksa sepatu adiknya itu. Pipit mengembuskan napas dengan berat. "Oalah, karena ini toh. Sejak kapan rusaknya?" "Udah dari tiga hari yang lalu, Mbak," jawabnya dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa nggak bilang ke Mbak?" "Maaf, Mbak, Adek takut ngerepotin Mbak." Pipit berjalan menuju rak penyimpanan barang. Mencari sebuah benda yang bisa merekatkan sepatu adiknya–meskipun tetap masih jauh dari kata layak pakai. Rara pun melepaskan sepatunya lagi.  "Sementara dilem lagi, ya, Dek. Nanti kalau Mbak udah punya uang, Mbak beliin sepatu yang baru buat kamu," janji Pipit. "Doain tulisan Mbak banyak yang baca, ya, Dek," lanjutnya. "Iya, Mbak, aamiin. Rara pa...