Hobby Berjalan, Sekaligus Dapat Cuan

Tak terasa, saya sudah mengikuti tantangan One Day One Post sampai pada pekan ke 5. Semoga saja bisa berlanjut ke pekan selanjutnya, ya, meskipun dengan sangat tertatih-tatih *hiks.

Di pekan ini, ada yang berbeda dari pekan-pekan sebelumnya, loh, karena kami seluruh peserta diberikan sebuah tantangan untuk menulis di blog sesuai dengan niche.

Apasih niche itu? niche blog merupakan sebuah tema atau topik khusus untuk blog kita. Nah, pada pekan ini, saya memutuskan untuk memilih niche fiksi untuk blog saya, dengan menuliskan cerpen (cerita pendek) dan cerbung (cerita bersambung). Tema inilah, yang tentunya akan menjadikan ciri khas saya sebagai "penulis apa''.

Hal inilah yang dinamakan personal branding juga. Personal branding mengacu pada proses untuk membangun persona publik seorang penulis untuk para penikmat tulisannya. Dalam hal ini, saya mencoba mendekatkan diri kepada para pembaca, dengan langkah sering berinteraksi di media sosial. Selain itu, hal yang paling penting yang harus dimiliki sebagai seorang penulis adalah untuk "tidak malu" dalam mempromosikan karya-karyanya.

Pertama kali posting di media sosial, saya juga sempat merasa ragu dan malu, mengingat tulisan saya ini masih sangat jauh sekali dari kata sempurna. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, rasa ragu itu pun perlahan mulai runtuh. Selain mengikuti seminar-seminar kepenulisan, pola pikir saya juga tak rubah. Buat saya, respon negatif atau positif, itu menjadi hal belakangan, "Yang penting karyaku tak posting dulu" begitu pemikiran saya waktu itu.

Selain di blog, saya juga memposting karya-karya berupa cerpen (cerita pendek) maupun cerbung (cerita bersambung) di grup-grup kepenulisan maupun di aplikasi menulis. Responnya? Alhamdulillah, sampai saat ini, belum ada (semoga saja tidak ada wkwk) yang merespon negatif untuk semua karya yang sudah saya publikasikan. 

Selain itu, ada juga istilah writerpreneur nih. Ada yang tau, apakah writerpreneur itu?

Yups, writerpreneur ini merupakan sebuah proses untuk membuat tulisan kita menjadi  menghasilkan uang. Wiih, keren nggak tuh, Gengs? Selain menjalankan sebuah hobby, kita jadi dapat penghasilan juga di dalamnya. Seperti dengan istilah yang sering sekali saya dengar "Sekali dayung, dua pulau terlampaui".

Banyak hal yang bisa menjadi wadah untuk ditempuh, yakni dengan cara, penulis membukukan karyanya melalui penerbit lalu menjualnya kepada  para pembaca. Penulis ini bisa melalui jalur seleksi, pinangan, atau SP. Nah, setelah bukunya tercetak, penulis bisa menjualnya kepada para pembaca maupun orang-orang di terdekat.

Bahkan di jaman yang semakin canggih ini, penulis juga bisa mendapatkan uang dari aplikasi menulis, loh. Tergantung dari banyaknya gembok yang dibuka pembaca dalam bab cerita yang kita posting. 

Penghasilannya? Wuih, jangan ditanya lagi. Gaji PeeNeS mah kalah. Malah ada yang beli mobil, rumah, dan aset-aset lainnya dari hasil menulis. Keren banget kan ya? (eeeittts ... tapi itu berlaku buat penulis kondang bin terkenal ya. Kalau untuk penulis macam awak ini? Duh, nggak usah dijelaskan lagi lah ya. Doakan saja, bisa mengikuti jejak para senior ini hihihi🙈). Bagi para pembaca pun akan dengan mudah mengaksesnya, tanpa memikirkan harga ongkos kirim yang kadang lebih besar dari harga buku yang dibeli. Kalau ada yang mudah, kenapa harus cari yang ribet. Betul apa betul?

Menurutmu, menarik banget nggak sih, Gengs, untuk menjadi writerpreneur? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Takdir Aina (8)

Nasihat Simbah

Gara-gara Barang Diskonan