Para Pengembala (1)

"Nanti sore angon sapi lagi ya, Sep," ajak Maman seusai pulang sekolah. Mereka berjalan beriringan di tepi jalan.

"Oke, agak sorean, ya, panas, nanti kalau kulitku jadi tambah gosong gimana," jawab Asep.

Maman geleng-geleng kepala. "Woalah, Sep ... Sep. Mau kulitmu dibawa keluar atau nggak dibawa keluar juga ya tetep sama aja kayak arang!" Ledek Maman. Mereka berdua tertawa. Ini hanyalah canda, mereka tak pernah sekali pun mempermasalahkannya.

***

Sesuai janji tadi siang, mereka berdua menggembala sapi di oro-oro kesongo. Selain mereka, ada juga beberapa masyarakat setempat yang mengembala hewan ternak di situ. Ada kambing, sapi, dan kerbau. 

Para pengembala saling berbincang, bertukar cerita dari berbagai macam informasi, sembari mengawasi hewan-hewan yang digembalakan. Oro-oro kesongo ini sangat luas, dan terbagi menjadi tiga bagian, yakni kawasan padang rumput, kawasan rawa, dan yang terakhir kawasan semburan lumpur.

Asep dan Maman berjalan mendekat ke arah Mbah Sapto, setiap sore beliau selalu mengembalan kambing-kambing dan sapi-sapinya juga di sini. 

Saat bersama Mbah Sapto, kami sangat senang, sebab sering kali diceritakan mengenai kisah-kisah sejarah.

"Sudah pernah mendengar kisah kesongo ini, Le?" tanya Mbah Sapto membuka pembicaraan.

"Sudah, Mbah. Tapi udah lama dengernya, jadi agak lupa. Ceritain lagi, ya, Mbah." pinta Maman.

"Pokoknya, nggak ada bosennya deh kalau Mbah Sapto yang nyeritain," sahut Asep juga.

Mbah Sapto tertawa dengan menampakkan giginya yang sudah mulai ompong. "Sini mendekat, Mbah ceritain lagi kisahnya untuk kalian." Asep dan Maman langsung duduk merapat di dekat Mbah Sapto.

"Dulu itu, oro-oro kesongo ini merupakan tempat Ajisaka menghukum putranya yang bernama Jaka Linglung. Jaka Linglung bertapa di sini dengan menjelma sebagai ular besar atau naga raksasa."

"Pasti gede banget, ya, Mbah?"

"Ya Gede, lha wong sewaktu mulutnya Jaka Linglung itu menganga, sangat mirip sekali dengan sebuah gua," jawab Mbah Sapto.

"Lha kenapa kok dikasih nama kesongo Mbah?"

"Waktu itu kan ada sepuluh pengembala. Jadi, sewaktu ada hujan lebat, mereka semua pada berteduh di mulutnya Jaka Linglung yang mereka kira itu gua. Kecuali pengembala yang punya penyakit kudis itu, dia dikucilkan, tidak diperbolehkan gabung bersama sembilan temannya tadi.

"Setelah sembilan pengembala itu masuk, mulut Jaka Linglung tiba-tiba menutup. Sehingga, seorang anak berpenyakit kudis yang selamat tersebut pun berlari dan mengabarkan kepada penduduk desa tentang peristiwa yang dialami sembilan temannya. Nah, sebagai peringatan atas peristiwa yang terjadi pada sembilan penggembala kambing tersebut, tempat ini diberi nama Pesongo (Kesongo). Apese wong songo." 

"Waah, di satu sisi, beruntung banget ya Mbah, yang punya penyakit kudis itu."

"Betul sekali, Le, mungkin saja, itu juga sebagai balasan kepada sembilan temannya yang mengucilkannya tadi."

Asep dan Maman mengangguk paham. Mata Asep menelisik sapi-sapi yang ada di hamparan oro-oro kesongo ini. Mencari-cari, sapinya yang sudah berpindah tempat.

"Sapiku di mana ya, Man?" Tanya Asep.

"Lha itu apa Man, yang di pojok sana," tunjuk Maman pada tempat si sapi tersebut. "Cuci muka dulu sana, kalau ngantuk!"

Byur ... byur ... byur!

Tiba-tiba, suara gemuruh itu muncul. Asep, Maman, dan para pengembala lainnya berlarian menyelamatkan diri dan hewan-hewan peliharaannya masing-masing.

Kira-kira, suara apa ya itu? Apa yang terjadi di oro-oro kesongo, sehingga Asep, Maman, dan para pengembala lainnya pada berlarian?

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Takdir Aina (8)

Nasihat Simbah

Gara-gara Barang Diskonan