Para Pengembala (6)
"Jagoan kok tumbang toh, Sep, Sep!" ujar Maman saat melihat keadaan sahabatnya–Asep dengan wajah pucat.
"Jagoan juga manusia, kali Man!" jawan Asep dengan suara lirih.
Maman tertawa dengan menunjukkan gigi gingsulnya. "Kok bisa sakit toh, Sep. Padahal tadi di sekolah juga nggak kenapa-kenapa."
"Iya, ya. Nggak tau deh, Man. Tiba-tiba tadi pusing dan menggigil."
"Pergi ke dokter sana, Sep. Nanti makin parah lagi."
"Alah, tumben Lu sok perhatian." Asep bangun, dan menyandarkan bahunya di ghedhek atau sekat rumah yang berupa papan kayu.
"Tadi udah dikerokin sama emak, Man, nanti juga sembuh," lanjut Asep.
Emak Asep membawa dua gelas berisi teh hangat. Beliau menaruhnya di atas nakas.
"Ini, Le, diminum," ujar Enaknya Asep.
"Kok repot-repot ya, Mak."
"Alah, ndak repot Le, anggep saja rumah sendiri," jawab emak.
Setelah menghabiskan segelas teh yang dibuatkan emak tadi, Maman langsung berpamitan untuk pergi mengembala sapi. Takut hari semakin sore.
Sesampainya di sana, di oro-oro kesongo sudah banyak sekali sapi dan kambing yang digembalakan.
"Lha sohibmu mana, Man?" tanya Mas Arya mendekati Maman.
"Asep lagi sakit, Mas," jawab Maman.
"Oalah, sakit apa to, Man?"
"Katanya, pusing sama meriang, Mas. Padahal tadi di sekolah masih sehat-sehat saja."
"Semoga lekas sehat, deh. Kamu bawa minum nggak, Man?" tanya Mas Arya sembari mengusap-usap leher bagian depan tanda kehausan.
"Ada, Mas." Maman menyodorkan botol minum yang ia bawa dari rumah. Kami lalu berteduh di bawah pohon yang rindang.
"Mas tahu nggak, kalau di sini ada yang naruh sesajen?" tanya Maman.
"Iya, Man, tahu. Kenapa memangnya?" tanya Maman.
"Udah dua hari ini, aki sama Asep ngeliat orang naruh sesajen di sini, Mas."
"Udah lama kalau itu, Man. Udah jadi rahasia umum juga lagi."
"Kok aku baru tahu, ya, Mas," ujar Maman dengan keheranan.
Mas Arya tertawa. "Baru keluar dari goa kayaknya kamu deh, Man!"
"Tapi kok, pas aku sama Asep pulang sekolah, kita lihatin sesajen yang tadi pagi disuguhkan nggak ada yo, Mas."
"Ya sudah, besok ikut aku, Man."
"Kemana, Mas?" tanya Maman penasaran.
Mas Asep membisikan suatu hal, mengenai rencana besok kepada Maman. Maman menganggukkan kepala tanda setuju.
***
Asep berjalan keluar dari kamar mandi dengan sempoyongan. Emak yang melihatnya pun dengan sigap menghampiri lalu menuntunnya.
"Ayo berobat saja, Le," bujuk emak.
"Nanti juga sembuh, Mak. Nggak papa ini mah," jawab Asep meyakinkan emaknya.
"Asep mau tidur lagi, ya, Mak."
"Iya, Le. Istirahatlah," ujar emak sembari mengopres badan Asep yang sangat panas. Raut khawatir dari wajahnya tak bisa disembunyikan. Ia mengelus kepala anak kesayangannya itu.
"Masih belum mendingan, Mak?" tanya bapaknya Asep saat pulang dari sawah.
"Belum, Pak. Tak ajakin ke dokter juga ndak mau tadi," ujar emak dengan sendu.
"Ya sudah, tak mandi dulu, Mak. Habis ini tak coba ke rumahnya Pak Dokter Sobri. Kali saja beliau mau ke sini untuk meriksa Tole."
Emak menganggukan kepala. Ia memijit kaki anak semata wayangnya itu dengan sangat lembut. Berharap agar lekas diberikan kesembuhan.
Tok ... tok ... tok!
Suara ketukan pintu terdengar begitu keras.
Emak membukakan pintu dan mempersilakannya untuk masuk.
"Kok sendirian, Dok? Tak kirain bareng sama suami saya," ujar emak.
"Oiya, tadi Pak Naryo mau mampir dulu, beli sesuatu. Saya ke sini duluan karena waktunya mepet, Mak," jelas Pak Dokter.
Emak mempersilakannya masuk ke kamar untuk memeriksa Asep. Seketika wajah pak dokter tercengang setelah memeriksa Asep.
***
Kira-kira, Asep kenapa ya? Trus, kalimat apa ya, yang dibisikan Mas Arya kepada Maman. Ada yang tahu nggak?
Komentar
Posting Komentar