Para Pengembala (5)
"Mbah, apa bener di sini ada pesugihan?"
Mbah Sapto tersentak dengan pertanyaan kami.
"Kalian kok tanya seperti itu, memangnya apa yang kalian lihat di sini?" selidik Mbah Sapto.
Maman dan Asep saling berpandangan. Mereka saling sikut, agar salah satu mengalah untuk menjelaskan perihal apa yang mereka lihat tadi pagi.
"I-itu, Mbah, tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah, kami melihat ada yang menaruh sesajen di sini," jelas Asep.
Mbah Sapto menghela napas. "Dugaan kalian betul, Le. Bagi orang-orang yang percaya, mereka melakukan praktik pesugihan biar sugih atau kaya. Namun, kita sebagai orang Islam tentunya tidak boleh seperti itu, sama saja dengan menyekutukan Allah, Le.
Asep dan Maman menyimak tuturan dari Mbah Sapto.
"Le ... melakukan pesugihan memang bisa mendatangkan kekayaan, namun hasil yang didapat jelas tidak ada keberkahan di dalamnya, karena diperoleh dengan cara yang haram. Makanya, jangan sekali-kali kita terlibat di dalamnya," lanjutnya.
"Kenapa kita tidak mencoba mengingatkan kepada mereka Mbah?"
"Dulu, Mbah pernah mengingatkan Le. Tapi ya sia-sia, nggak pernah didengarkan. Akhirnya, Mbah menempuh jalan lain."
"Apa tuh, Mbah?" potong Maman.
"Mendoakannya, Le. Sama-sama kita doakan ya Le, semoga mereka segera sadar," tutur Mbah Sapto.
"Aamiin, Mbah," jawab Asep dan Maman secara serempak.
Mereka menatap hewan ternak yang mereka gembalakan. Sapi-sapi yang gemuk, karena setiap hari mendapatkan asupan makanan yang cukup.
***
Maman menyenggol tangan Asep. Memberikan kode untuk menengok ke arah oro-oro kesongo. Mereka langsung memberhentikan langkah dan mengumpat di balik pohon beringin.
"Ada lagi, Sep. Tapi kayaknya orangnya beda sama orang yang kemarin deh," tutur Maman saat melihat orang menaruh sesajen.
"Wah, iya i Man," jawab Asep. "Eh eh, itu apa ya, yang dituangkan?" Asep menunjuk ke arah orang itu.
"Kok aku jadi merinding ya, Sep," ujar Maman sembari memegang tengkuknya.
"Ah, kamu ini Sep. Ya sudah, ayo kita berangkat aja ke sekolah."
Mareka berjalan kaki beriringan.
Kring ... kring ... kring!
Bunyi bel sepeda terdengar keras memekakkan telinga. Asep dan Maman menengok ke arah belakang. Sudah diduga, siapa lagi kalau bukan si Riky, anak orang kaya di kampung ini.
"Huu ... orang miskin! Hari gini berangkat sekolah masih jalan kaki!" ujar Riky sembari menjulurkan lidahnya.
Seketika, Maman mengepalkan tangannya, bersiap-siap untuk menghajar si Riky. Namun, aksinya dicegah oleh Asep.
"Sabar, Man, sabar ... jangan bertindak yang nantinya berujung menyusahkan diri kita sendiri," ujar Asep sembari mengelus dadanya Maman.
Maman mengembuskan napas dengan kasar. "Sebel aku sama dia, Sep. Sukanya menghina saja, mentang-mentang dia ini orang kaya loh."
"Iya, tahu aku Man. Tapi ya sudahlah. Biarkan saja, nggak ada untungnya juga buat kita," tutur Asep menenangkan. Mereka pun melanjutkan perjalanannya lagi.
***
"Sep ... Asep ... Assalamualaikum, Sep!" teriak Maman sambil memegang tali pengikat sapi di depan rumahnya Asep.
"Waalaikumussalam, Le. Asep ada di kamar Le, nggak enak badam. Makanya tak suruh istirahat dulu," tutur ibunya Asep.
"Kalau mau njenguk, dia ada di kamar Le," lanjutnya.
"Iya, Bu,"
Maman pun segera mengikat sapinya di pohon, depan rumahnya Asep, dan berlanjut menjenguk di dalam kamar.
"Jagoan kok tumbang toh, Sep, Sep!" ujar Maman saat melihat keadaan sahabatnya–Asep dengan wajah pucat.
"Jagoan juga manusia, kali Man!"
Komentar
Posting Komentar