Para Pengembala (3)


Mbah Sapto menunjuk dua sapi yang sudah diikat di pinggir jalan.

"Jonooo ...." teriak Maman dengan begitu kencang. Maman langsung berlari ke arah sapinya. Raut lega pun muncul dari wajahnya.

"Lain kali, lebih hati-hati ya, Le." Pesan Mbah Sapto kepada kami.

"Terima kasih, ya, Mbah. Kami tadi terlalu panik soalnya," ujar Asep. Mbah Sapto menganggukkan kepala.

Asep dan Mbah Sapto berjalan beriringan menuju ke arah tempat diikatnya sapi Maman. Ia memeluk dan mencium sapinya itu dengan rono bahagia.

"Nyebut, Man. Sapi pakai diciumi segala. Kalau orang lain liat, bisa dikira edan kamu!" tegur Asep.

"Ah, kamu ini, Sep, merusak momen bahagiaku saja," sungutnya.

"Terima kasih, ya, Mbah. Untung ada Mbah Sapto yang bawain sapi Maman," lanjutnya.

"Iya, sama-sama, Le. Kita ini, harus bisa menguasai situasi. Dalam hal apa pun. Untung saja, tadi sapi mu manut, Le. Kalau nggak, mbah bisa kewalahan tadi pas menggeret dua sapi."

Tiba-tkba, terdengar teriakan dari arah barat. Kami semua menengok ke arah sana. 

"Man ... Maman. Ya Allah, suka bikin emak jantungan aja dah Lu," ujarnya disertai pukulan bertubi-tubi di bahu Maman.

"Sudah-sudah, Tin. Jangan dipukulin anakmu, kasihan." cegah Mbah Sapto. 

Maman mengaduh kesakitan.
"Biarin, Mbah. Tapi orang-orang pada bilang kalau sapinya hilang, gara-gara ditinggal lari sama anak ini."

"Tapi kan si Jono–sapi Maman udah ketemu, Bu."

"Jawab aja deh Lu, kerjaannya!"

"Harusnya ibu berterima kasih sama Mbah Sapto, soalnya beliau yang mengamankan si Jono tadi, Bu," sahut Asep.

"Iya kah Mbah?" Mbah Sapto menganggukkan kepala.

"Woalah ... matur nuwun nggih Mbah Sapto."

Setelah berbincang-bincang, kami semua langsung pulang ke rumah masing-masing. Tapi aku mampir dulu ke rumahnya Bu Mar untuk mengambil sapiku yang ku titipkan di sana.

"Gimana, Le, udah ketemu sapinya di Maman?" tanya Bu Mar.

"Alhamdulillah, sudah Bu Mar. Ini juga sudah dibawa pulang sama Maman, Bu."

"Ketemu di mana Le?" tanya Bu Mar penasaran.

"Di dekat oro-oro kesongo, Bu, diselametin sama Mbah Sapto," jelas Asep.

"Ya sudah, ya, Bu, saya pamit dulu. Terima kasih, sudah mau saya titipin." Asep berjalan sembari menuntun sapi kesayangannya. Untung saja, tadi ia sempat membawa sapinya sekalian.

***

"Kamu nggak kenapa-kenapa kan Le?" tanya enaknya Asep sembari memeriksa badannya Asep. Saat ia baru saja menginjakkan kakinya di halaman rumah.

"Mak dengar tadi, kata orang-orang, kesongo baru ngurdo Le."

"Iya, Mak, Alhamdulillah nyemburnya nggak besar," jawab Asep.

"Syukurlah, ya sudah, sana mandi, bersih-bersih. Habis itu kita makan ya, Le." perintah Emak di meja.

"Iya, Mak." Setelah memasukkan sapinya ke dalam kandang. Asep masuk ke kamar untuk mengambil peralatan mandi. Saat menuju ke kamar mandi, tangan isengnya mencoba membuka tudung saji yang bertengger di atas meja. Aroma nikmat masakan sangat menggiurkan. Tetapi, niat itu urung, ketika emak sudah berteriak dari ruang tamu.

"Cepetan, Sep. Keburu bapakmu pulang dari sawah."

"Iya, Mak," jawabnya singkat.

***

Hari ini ada les di sekolah. Otomatis, jam nya akan bertambah dari biasanya. Emak berinisiatif untuk membuatkan bekal untuk Asep, agar tidak kelaparan di sekolah. 

Suara salam dam ketukan pintu terdengar dari arah depan. Siapa lagi kalau bukan Maman yang bertamu. Kami setiap hari pulang dan pergi bersama-sama. 

Setelah berpamitan kepada emak, Asep dan Maman segera bergegas menuju sekolah. Seketika langkah mereka terhenti, saat berada di dekat oro-oro kesongo. Mereka tercengang dengan apa yang mereka lihat di depan mata.


Komentar

  1. Ini Asep sama Maman kalau mau lewat sekolah harus nglewati daerah aneh-aneh ya Kak.

    BalasHapus
  2. Wah, si Asep sama Maman kelihatan apa ya, kok jadi tercengang melihatnya.

    BalasHapus
  3. Nah baru nemu jawaban Oro-oro kesongo nya Kak hahaha

    Pinter banget bikin orang pinisirin.

    BalasHapus
  4. oro-oro kesongo itu apa? jadi penasaran aja deh

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Takdir Aina (8)

Nasihat Simbah

Gara-gara Barang Diskonan