Nasi Berkat (3)

Brak! 

Terdengar, pintu didobrak oleh seseorang. "Keluar kamu Arman!" ujarnya dengan berteriak.

Siapa ini yang bertamu dengan cara seperti itu. Pintu yang sudah lapuk pun akhirnya menjadi roboh karena didobraknya.

"Ada apa ini? Jangan main kekerasan, ya!" Bentak Mas Arman, saat keluar dari kamar.

"Alah, nggak usah banyak cincong deh, Lo! Sini bayar hutang-hutang Lo. Kami ini suruhannya Bos Herman!"

Allahu ... ada apa ini? Hutang untuk apa? 

"Saya 'kan sudah membayarnya rutin setiap bulannya. Nggak pernah telat sedikit pun. Lalu,  masalahnya di mana?"

"Kami hanya menjalankan perintah!" bentaknya.

"Kalau pun mau menagih mbokya dengan cara yang baik-baik. Jangan seperti ini. Kasihan anak istriku!"

"Saya mau ketemu sama Pak Herman dulu kalau gitu," ujar Mas Arman.

"Nanti Mas jelaskan, Dek," lanjutnya.

Hutang? Pak Herman? Allah ... apalagi ini.

***
Mas Arman bersama debcolector tadi pergi ke rumahnya Pak Herman. Aku menunggu suamiku dengan cemas, takut terjadi apa-apa dengannya. Apalagi keadaannya sedang lagi tidak sehat.

"Bu, ada apa?" tanya putriku dengan wajah ketakutan. Kalimat demi kalimat ku lontarkan sebagai  obat penenang baginya.

"Nggak ada apa-apa, Nduk. Ndak usah dipikirin, ya. Semua akan baik-baik saja." Aku mengelus kepala putriku tercinta.

"Iya, Bu, semoga bapak baik-baik saja, ya, Bu." Lila memelukku.

Aku menatap pintu yang roboh. Pintu yang terbuat dari kayu yang sudah lapuk itu pun sekali digebrak langsung berubah jadi berkeping-keping.

"Bantuin ibu beresin puing-puing ini, yuk, Nduk," ajakku pada Lila.

Ia pun bersemangat memunguti serpihan kayu dan menaruhnya di tong sampah yang berasal dari kaleng cat bekas.

"Yeey ... udah bersih, Bu," teriaknya dengan kegirangan.

"Alhamdulillah, ayo kita cuci tangan dulu, Nduk,  kotor ini," ucapku seraya menunjukkan telapak tangan yang berubah menjadi warna hitam.

"Assalamualaikum." Suara bariton itu terdengar dari dari depan rumah. 

"Waalaikumussalam, Mas. Kamu nggak papa 'kan? tanyaku khawatir.

"Alhamdulillah, nggak papa, Dek. Debcolectornya yang salah orang. Harusnya, Arman yang di gang sebelah yang ditagih, malah keliru ke rumah kita," jelasnya.

"Lha kamu hutang ke Pak Herman buat apa to, Mas?"

Mas Arman menjelaskan, ia berhutang untuk ibu di kampung saat jatuh sakit, karena keadaannya parah, jadi harus diopname, sehingga membutuhkan biaya yang lumayan banyak. Kebetulan, waktu itu, tabungan kami sudah dipakai untuk biaya melahirkan Lila.

"Kok ya kamu hutangnya ke lintah darat, to, Mas. Sudah tahu bunganya gede. Kenapa nggak di yang lain aja?"

"Sudah buntu, Dek, nggak ada yang mau minjemin. Alhasil, Mas terpaksa berhutang kepada Pak Herman," tuturnya.

"Lha sekarang masih sisa berapa hutangnya, Mas?"

"Masih sekitar 4 juta-an, Dek." Helaan napasnya terdengar begitu berat. "Maafin Mas, ya, Dek. Udah nutup-nutupin hal ini sama kamu."

"Ya udah, Mas, nggak papa. Lha wong sudah telanjur juga. Yang penting kita harus pikirkan, bagaimana caranya, agar hutang ini lekas lunas." 

Mas Arman memelukku, ia pun berbisik. "Makasih, ya, Dek. Beruntung sekali Mas punya istri seperti kamu." Kecupan hangat mendarat di keningku.

"Sama-sama, Mas, lain kali, kalau ada apa-apa cerita ya. Semua masalah pasti akan lebih ringan ketika kita menghadapinya bersama-sama."

Kemarin, aku ditawarin oleh Bu Pras, jadi tukang bantu-bantu di rumahnya. Tetapi, aku belum meng-iyakan, sebab harus meminta izin dulu kepada Mas Arman. Awalnya memang Mas Arman keberatan, akan tetapi setelah menimbang berbagai macam hal. Akhirnya, Mas Arman menyetujuinya. Ah, tidak sabar rasanya, memberitahu Bu Pras bahwa aku sudah diijinkan.

***

"Tin, ini tolong dicuci ya," ujar Bu Pras seraya memberikan pakaian kotor satu keranjang penuh kepadaku. "Nggak usah capek-capek ngucek, ya, Tin. Di belakang sudah ada mesin cuci," jelasnya. Yups, hari ini, aku sudah mulai bekerja di rumahnya Bu Pras.

Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. "Anu, Bu ... saya belum bisa memakainya." Seketika Bu Pras menepuk jidatnya.

"Gusti Allah ... maaf-maaf, Tin, saya nggak tahu kalau kamu belum bisa. Mari, saya ajarin," ajak Bu Pras ke ruang belakang. Beliau pun menjelaskan tahapan-tahapan yang perlu diperhatikan, saat menggunakan mesin cuci. Aku mengangguk paham. Lalu, aku mempraktekkannya dengan didampingi oleh Bu Pras. Ia pun mengacungkan dua jempolnya, tanda bahwa cara yang ku praktekkan sudah benar.

"Sambil nunggu cucian beres, kamu bisa sambil nyuci piring atau nggak nyapu lantai, Tin. Jadi, pekerjaan kamu bisa cepet selesainya."

"Iya, Bu Pras. Makasih, ya, sudah diajarin dan mau menerima saya di sini."

"Alah, kamu tenang aja. Saya juga kesepian di sini, Tin, nggak ada teman ngobrol. Lila ajak ke sini aja nggak papa. Saya malah senang. Hitung-hitung sebagai pelipur rindu pada cucu."

"Wah ... beneran, Bu?" Bu Pras mengangguk.

"Alhamdulillah, saya bisa jadi ngawasin Lila, Bu. Kalau ditinggal di rumah biasanya dia suka main nggak tahu waktu, Bu. Masih mending kalau teman-temannya itu baik, Bu, yang ada malah anak saya jadi bahan bully-an." 

"Yang sabar, ya, Tin. Semoga mental anakmu itu sekuat baja, seperti ibunya."

"Aamiin ya Rabb. Sekali lagi, makasih loh, Bu."

Bu Pras ini memang memiliki hati yang sangat baik sekali. Wajahnya pun ayu, tak lekang oleh waktu. Sudah berumur 60 tahun, masih terlihat segar bugar, hingga lebih terlihat muda dari usianya sendiri.

Setelah semua pekerjaan rumah selesai, aku berpamitan kepada Bu Pras. Beliau memberikan buah tangan berupa nasi ayam geprek untukku sekeluarga. Aku mengucapkan banyak terima kasih kepadanya.

Jarak dari rumahnya Bu Pras ke rumahku cukup dekat. Hanya selisih tujuh rumah saja. Lila menyambut kedatanganku di teras, aku langsung memeluk dan menciuminya. Baru saja sebentar, sudah kangen saja sama anak ini.

Mas Arman yang fokus membetulkan pintu, akibat tragedi kemarin, tak tahu jika aku sudah pulang. 

Dor!
Ia pun kaget sembari memegang dadanya.

"Ya Allah, Dek, ngagetin Mas aja kamu ini. Dateng-dateng itu mbok ya salam."

"Ye ... tadi udah salam. Mas aja yang nggak denger."

"Masak iya, sih?" tanyanya tak percaya.

"Ya iyalah, Mas. Tanya aja ke Lila."

"Bener kok, tadi Ibu udah ngucapin salam, Pak. Bapak aja yang nggak denger." Walhasil, Mas Arman pun malu.

Aku pun mengajak mereka untuk makan. Perut yang sedari tadi keroncongan, seolah meronta-ronta ingin diberi asupan. 

Lila kegirangan saat aku membuka box berisi paket komplit ayam geprek, bingkisan dari Bu Pras tadi. Maklum, Lila belum peenah memakannya sama sekali.

"Waah ... ternyata begini, ya, Bu rasanya." Komentar Lila saat pertama kali menggigit ayam geprek itu.

"Lila suka?" tanyaku. Ia pun mengangguk dengan cepat.

"Nanti kalau ada rezeki lebih, kita beli ayam geprek, ya," sahut Mas Arman.

"Yeey ... Alhamdulillah. Semoga bisa terkabul, ya Allah."

"Aamiin ...." jawabku serentak dengan Mas Arman.

"Dek, besok Mas bersngkat kerja lagi," ujar Mas Arman.

"Kok cepat sekali, Mas? Baru sehari di rumah sudah mau pergi lagi." Komentarku.

"Ya mau bagaimana lagi, Dek," ajawabnya sedu. Aku memegang pundaknya.

"Iya, Mas, semoga langkahmu bisa menjadi keberkahan dan dilancarkan segala urusan oleh-Nya."

Tok ... tok ... tok!

Aku beranjak ke depan untuk membukakan pintu.

"Armannya ada, Tin?" tanya lelaki berbadan tambun itu kepadaku. Aku mempersilakannya masuk, lalu memanggil mas Arman ntuk mememuinya.

"Ada Mas. Duduk dulu, ya." jawabku.

"Siapa, Dek?"

"Temanmu, Mas, nyariin kamu. Sana, temenin."

Aku membuatkan teh hangat untuk mereka berdua. Ternyata, ini temanya Mas Arman sewaktu jaman SMP dulu. Mereka bersendawa gurau, melepas rindu.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Takdir Aina (8)

Nasihat Simbah

Gara-gara Barang Diskonan