Jalan Takdir Aina (9)
"Anak gadis senyum-senyum mulu, habis kesambet setan mana kamu, Ai?" Komentar Mami saat aku memasuki rumah. "Istighfar, Nak!" lanjutnya.
"Mami kayak nggak pernah muda aja, deh!" jawabku.
Mami hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahku. "Virus cinta emang benar-benar bikin edan!" teriaknya
Ah, akhirnya setelah sekian lama, aku merasakan yang namanya jatuh cinta lagi.
"Banyak pesenan, Mam?" tanyaku saat mami menghitung jumlah box yang belum diisi nasi beserta lauk pauknya.
"Bisa diem dulu nggak, Ai, mami jadi buyar ini. Tadi sampai berapa coba?" Pikirnya sambil mengingat-ingat lagi. Efek umur mah begitu yak! Aku dan Mbak Indah pun tertawa. Salah sendiri dibantuin orang nggak mau. Kayaknya, mami ini menganut paham 'Kalau ada yang susah, kenapa harus ngelakuin cara yang gampang'. Duh Gusti!
Tok ... tok ... tok!
Suara ketukan pintu dan ucapan salam terdengar begitu keras. Aku pun dengan sigap melangkahkan kaki ke ruang tamu untuk membukakan pintu.
"Lhoh, Mas Panji? Kok bisa tahu rumahku?" tanyaku kaget dan terheran-heran.
"Nggak disuruh masuk dulu nih?" tanyanya, membuatku sebagai tuan rumah menjadi sedikit malu. Hujan gerimis, membuat baju yang dipakai Mas Panji sedikit basah.
"Kebetulan tadi lewat sini, Ai, jadi sekalian mampir. Nggak papa 'kan? Nih, aku bawain martabak buat kamu." Mas Panji meletakkan satu kresek penuh yang berisi martabak.
"Banyak banget, martabaknya, Mas? Cukup ini, kalau dimakan satu RT."
Ia pun tertawa, dengan menampakkan gigi gingsulnya.
"Kamu ini gimana sih, Ai, ada tamu kok nggak dibikinin minum!" ujar mami sembari membawa segelas teh untuk Mas Panji.
"Saking asiknya ngobrol tadi, Mi, jadinya lupa deh. Maaf ya, Mas."
"Nggak papa, Ai, santai aja," ucap Mas Panji lalu menyeruput minuman tadi.
"Kenalin, saya mamanya Aina, Mas." Mami menyodorkan tangan untuk bersalaman.
"Saya Panji, Bu, rekan mengajar di sekolah," jawabnya.
"Oalah, pantes aja udah akrab. Kalau gitu saya tinggal ke dalam dulu, ya, mau nerusin pesanan catering," pamit mami.
"Mas, maaf banget nih, aku juga mau siap-siap, bentar lagi mau pergi ke kampus. Udah jam segini soalnya." Aku menunjuk jam yang berada di tembok rumahku.
Mas Panji pun bersikeras ingin mengantarku pergi ke kampus. Tapi aku juga bersikeras untuk menolaknya. Jaraknya lumayan jauh soalnya. Mending aku naik motor sendiri, daripada ngerepotin orang.
Dia malah ke dapur untuk turun tangan bantuin pesenan catering. Aku mencuri dengar dari dalam kamar, kalau Mas Panji memberikan resep rahasia juga ke mama, agar dagangannya laris. Pantesan, baru kenal udah keliatan akrab banget, kayak mertua dan menantu *eh! Astagfirullah, Ai, ingat, kamu itu udah punya Mas Kurir!
Setelah berpamitan, aku melajukan motor dengan sangat hati-hati, sebab jalanan masih licin setelah diguyur hujan tadi.
Aku menengok jam tangan. Mampus! Sepuluh menit lagi mata kuliah akan dimulai. Mana dosennya killer lagi. Sehingga, aku menambah kecepatan laju sepeda motorku. Untung saja, aku datang tepat di saat Pak Dosenku juga akan memasuki kelas. Alhamdulillah!
Pembelajaran pun dimulai dengan diawali doa bersama terlebih dahulu. Aku bersama kedua temanku–Lita dan Edo maju ke depan kelas untuk mempresentasikan makalah kami.
Teman-teman pun begitu antusias menanggapi dan mengkritisi isi dari makalah. Syukurlah, aku, Lita, dan Edo mampu menjawabnya. Sehingga kami mendapatkan nilai yang memuaskan dari Pak Dosen kali ini.
Setelah selesai jam mata kuliah, kami bertiga nongkrong dulu di cafe seberang kampus sebelum pulang ke rumah.
"Thanks banget, ya, Ai, berkat Lo, kita semua jadi dapat nilai yang memuaskan," ujar Edo membuka sebuah obrolan.
"Santai aja kali, itu kan kerja kelompok. Dapet nilai bagus, ya karna itu berkat dari usaha kita semua. Bukan cuma dari aku aja," jelasku kepada mereka.
"Betul kata Edo tadi, Ai, untung ada kamu," sahut Lita.
"Udah ah, yuk mending kita makan. Udah keroncongan nih perut, daritadi minta diisi."
"Bentar-bentar, Ai, aku mau ngefotoin dulu. Mau ku aploud di media sosial!" ujarnya seraya memfoto makanan yang di meja bak fotografer handal. Hasilnya? Jangan tanya deh, ntar nyesel ngeliatnya. Ha-ha-ha.
"Kok nggak ada yang bagus, sih!" gerutunya. Begitulah, memang terkadang usaha itu menghianati hasil.
"Ribet banget, sih. Udah ah, gua mau makan!" ujar Edo.
"Bentar dulu, Edo. Sabar...." Lita pun mengambil piring Edo kembali untuk ditata ulang, mau difoto lagi. Walhasil mereka pun ribut. Duh Gusti, mau makan aja cobaannya banyak banget!
Karena perut sudah keroncongan, aku pun mencomot mendoan yang ada di depanku, sambil menikmati drama keributan mereka berdua. Aksiku ini pun diketahui oleh Lita.
"Ah, Elu mah sama aja, Ai!" sungutnya. Aku dan Edo pun tertawa. Biarin dah ah. Punya temen, yang satu kok gini amat.
Komentar
Posting Komentar