Jalan Takdir Aina (8)
Sesuai janji tadi malam, aku bersama Mas Kurir makan siang bareng di warung tenda biru. Ada suatu hal yang ingin aku bahas di sini perihal kejadian kemarin. Siapa yang nggak syok coba, kalau nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba ada yang ngajakin ke pelaminan.
Setelah memesan beberapa menu, kami memilih tempat duduk di pojokan. Dengan nuansa adem dan sejuk, karena bersebelahan dengan pohon beringin. Duh, jadi seger-seger merinding 'kan! Jangan mikir yang aneh-aneh, ya, karena warungnya rame banget, ngga ada pilihan lain karena cuma di situ tempat yang masih kosong.
"Gimana soal kemarin, Ai, udah ada keputusannya?" tanya Mas Kurir saat memulai obrolan denganku.
"Belum, Mas. Emm ... aku mau tanya sesuatu dulu ke kamu." Aku menghela napas cukup dalam. "Apa alasanmu ngajakin aku nikah, Mas?" tanyaku dengan penasaran. Ya wajar saja, sebab kita kenal juga baru beberapa bulan. Itupun karena dia yang sering nganterin paket ke rumah.
"Karena kamu adalah orangnya, Ai," ujarnya sembari menatapku dalam-dalam. Duh, pesonanya mana tambah jadi 80% lagi kalau doi kayak gini.
"Kamu adalah orang yang ku cari selama ini, Ai. Sosok yang baik hati, shalihah, pintar, walaupun sedikit pecicilan, sih." Ya ampun, jujur banget sih ini orang. "Aku yakin, kamu bisa jadi partner hidupku yang tepat, Ai," jelasnya.
"Kalau ternyata, aku nggak sebaik dan se-solehah seperti yang kamu kira gimana, Mas?"
"Semua orang itu, pasti ada kekurangan dan kelebihannya masing-masing, Ai. Kamu nggak usah khawatir akan hal itu. Ketika aku sudah mantap memilihmu untuk dijadikan seorang istri, itu artinya aku udah siap menerima bagaimana pun risikonya. Bagaimanapun baik burukmu. Begitupun sebaliknya, Ai."
Aku menundukkan kepala. Tak kuasa rasanya menatap mata elang itu. Terdengar dari perkataan, dan terlihat dari mimik wajahnya, ku rasa Mas Kurir ini memang benar-benar serius ngajakin nikah. Nggak main-main, oy!
Duh, kudu piye iki aku Gusti!
***
Aku masih diam tak berkutik, setelah mendengar penjelasan Mas Kurir tadi.
"Apa yang kamu ragukan dari aku, Ai? Ayo bilang aja, nggak papa. Aku siap mendengarkan."
"Emm ... mungkin masih syok aja kali, Mas, rasanya nggak nyangka gitu kalau ada yang mau ngajakin nikah. 'Kan Mas tau sendiri, Aina itu jomlo akut." Tawa Mas Kurir meledak. Aku pun segera menutup mulutnya dengan telapak tanganku. Sebab semua mata tertuju pada tempat kami.
"Duh, maaf-maaf, Ai. Mas kelepasan tadi. Jadi gimana keputusannya, Ai?"
Aku menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Gimana, ya? Syukurlah, momen ini bertepatan dengan makanan yang kami pesan tadi tiba. Jadi aku punya kesempatan untuk mengulur waktu.
"Permisi, Kak, ini pesanannya, ya, maaf agak sedikit lama," ujar pelayan di warung tenda biru ini dengan ramah sembari meletakkan pesanan kami di atas meja.
"Iya, Kak, nggak papa. Terima kasih, ya," jawabku.
"Makan dulu, ya, Mas, laper soalnya," ucapku pada Mas Kurir.
"Makan yang banyak, ya, Ai. Nih aku kasih kesukaan kamu." Mas Kurir meletakkan sebuah kulit ayamnya di piringku ditambah dengan senyuman yang bikin meleleh.
Aku menatapnya tak percaya. Oh my God! Ini suatu kelangkaan, jarang-jarang ada seorang laki-laki dengan suka rela menyerahkan bagian terenak dalam tubuh ayam. Fix, manusia satu ini harus banget dimusiumkan!
"Oke, ayok kita nikah aja, Mas!" ujarku dengan lantang. Untung saja, warung sudah mulai sepi, orang-orang di sekitar pun tak memperhatikan tingkah kita. Alhamdulillah, aman.
Seketika ia pun tersedak mendengar perkataan ku tadi. Aku menyodorkannya segelas minuman. Setelah semuanya membaik, Mas Kurir menempelkan telapak tangannya di jidatku."Kamu nggak lagi kesambet 'kan, Ai?"
"Nggak dong, Mas!"
"Oke, besok Mas akan datang ke rumah bersama papa mama."
Aku memakan nasi dan lauk dengan begitu lahap. Saat aku menegakkan kepala, ternyata Mas Kurir memandangiku. Sem! Jadi tambah salting 'kan!
"Kamu cantik banget sih, Ai, jadi buru-buru pengen halalin," ucap Mas Kurir seketika membuatku tersedak. Nah kan, kenapa jadi gantian gini sih?!
Cewek gini banget ya.. Baru dikasih kulit ayam aja labgsung di-iya-in ajakan nikahnya. Duh meleleh aku baca cerita romance gini mbaak.
BalasHapusWkwkwk iyanih Kak 🙈
HapusUluluh...Ainaa....
BalasHapusSo suiiit banget yaaaa
🥰🥰
HapusDuh, Ai, seberapa handsome sih sampai sampai bikin kamu meleleh. Kulit ayam antara dua hati nih
BalasHapusYa ampun meleleh karena kulit ayam 😆
BalasHapus