Jalan Takdir Aina (10)


Setelah semua urusan selesai, kita semua pulang. Tidak ada yang searah. Jadi aku pulang sendiri menyusuri jalan yang begitu sepi. Maklum, sekarang udah jam 11 malam.

Tiba-tiba si Juki–motorku ini macet. Mana macetnya di jalan tengah hutan lagi. Kan jadi ngeri-ngeri merinding! Dengan perasaan kalut, aku mencoba menstater motor lagi. Kali aja ada keajaiban, si Juki bisa hidup kembali. 

Dari arah belakang, ada suara motor itu pun berhenti. Terlihat dari ekor mataku, terdapat laki-laki berbadan tegap dengan memakai penutup kepala, aku tak tahu persis wajahnya, karena sudah diselimuti oleh ketakutan. Kakiku lunglai, aku berlindung di balik si Juki dengan gemetar. Kurasa, derap langkah kaki itu semakin mendekat. Allah ... tolonglah aku.

"Jangan bunuh saya. Saya belum nikah. Tolong, pergi dari sini!" Teriakku dengan ketakutan. Malah gelak tawa yang ku dengar. Bentar-bentar, sepertinya suara ini tidak asing di telinga. Aku menatap lelaki tadi. Wailah, ternyata Mas Panji. Untunh saja, jantungki nggak copot!

"Makanya, kalau ditawarin dianterin itu mau. Kan kalau kejadian kayak gini, siapa juga yang susah? Kamu sendiri 'kan? Syukur-syukur ketemu sama orang baik, yang mau nolongin kami. Kalau nggak gimana coba?" omelnya.

"Iya, maaf, Mas. Niatku kan nggak mau ngerepotin siapa-siapa," jawabku. Kepalaku di elusnya.

"Lain kali jangan kayak gini lagi, kalau ada apa-apa bilang. Bahaya, ini udah malam soalnya." Ia pun mecoba mengotak-atik si Juki. 
Setelah hampir 30 menit, akhirnya dia bisa nyala juga. Syukurlah.

Aku mengucapkan banyak terima kasih kepada Mas Panji. Ntah gimana jadinya kalau nggak ada dia. Nggak bisa bayangin rasanya. Walhasil, setelah insiden mogoknya si Juki, aku diantar pulang sampai rumah oleh Mas Panji dengan naik motor beriringan. Takut si Juki mogok lagi nanti.

"Ya Allah, Ai, kok bisa sampai malem banget. Mami khawatir, Ai!" seru mami saat aku sampai rumah.

"Ditelpon nggak aktif. Buang aja HP nya kalau nggak digunain. Untung tadi ada Nak Panji yang bisa dimintain tolong,"

"Mi ... tadi itu, si Juki ngambek. Mogok di tengah jalan. Mau ngabarin orang juga nggak bisa, Mi, HP Ai mati, gara-gara tadi siang lupa nggak dicarger," jelasku lalu memeluknya, agar runtuh segala amarah dan rasa kekhawatirannya. "Maafin Aina, ya, Mi."

"Makasih juga, ya, Mas. Ayo masuk dulu, aku bikinin kopu, biar nanti nggak ngantuk di perjalanan," ajakku masuk ke rumah.

"Iya, Nak, ayo. Makasih, ya, udah mau mami repotin," sahut mami.

"Makasih, Ai, Mi, tapi nggak usah. Soalnya ini sudah malam. Saya langsung pulang aja," jawabnya lalu berpamitan.

***

Sudah berjam-jam mata ini tak bisa terlelap. Selalu gelisah dengan menatap layar HP. Kok Mas Kurir nggak ada nge-chat sama sekali, ya, padahal kemarin-kemarin dia gencar banget buat chat duluan. Ah elah, apa jangan-jangan dia nggak serius sama aku, ya? Duh, suka banget sih, overthinking. Jadi susah tidur kan!

Setelah menimbang-nimbang berbagai macam hal, aku memberanikan diri untuk nge-chat doi.

[Mas] Terkirim.

Beberapa detik kemudian, centang biru. Yes, dibaca.

[Iya, Ai kok belum tidur?]

[Karena lagi mikirin kamu, Mas!]

[Cie ... kangen, ya? Besok 'kan ketemu, Ai]

[Bukan itu!]

[Lha trus apa, Ai?]

[Kenapa Mas nggak Nge-chat?]

[Aku takut ngganggu kegiatanmu, Ai. Katanya tadi kan ada jam kuliah. Jangan mikir macam-macam, ya.]

[Ah, Mas nggak peka!]

Dering HP ku berbunyi. Siapa lagi kalau bukan Mas Kurir tersangkanya.

"Nggak peka gimana, Ai? Kalau ada sesuatu bilang, ya," ujarnya dengan muka bantal.

"Nggak papa, kok, Mas. Cuma iseng aja tadi," jawabku dengan tertawa.

"Ai, tahu nggak? Pa-"

"Enggak, Mas."

"Bentar dulu, belum selesai ngomongnya."

"Yaudah, lanjutin dong."

"Pasti para bidadari lagi iri ngelihat kecantikan kamu." Demi apa, malam ini digombalin sama mas kurir. Yang nge-gombal pakai senyum-senyum segala lagi. Kan jadi salting, euuy! Entah bagaimana raut mukaku sekarang, kayaknya 11 12 sama kepiting rebus deh warnanya. Aku mutup wajahku dengan bantal, lalu mengakhiri video call pada malam hari ini.

[Selamat tidur, Sayang. Mimpi indah, ya. Sampai ketemu besok] pesannya disertai dengan emoticon love di akhir kalimat.

Ya Allah ... pengen cepet-cepet nikah!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Takdir Aina (8)

Nasihat Simbah

Gara-gara Barang Diskonan