Jalan Takdir Aina (5)



Walaupun bentukanku yang pecicilan kayak begini, kata Mami, aku termasuk penyayang anak-anak. Buktinya, mereka semua baik dan nurut sama aku. Bukan karena terpaksa juga, loh, ya.

Di sela-sela mengajari ngaji, aku melihat ada mobil yang memasuki rumahku. Tumben sekali. Kira-kira siapa, ya, yang bertamu sore-sore begini. Jangan-jangan, ada yang mau ngapelin Mami lagi? Ah, beginilah nasibnya, kalau lebih cantikan emaknya dibandingkan dengan anaknya.

Serius, Gaess, Mami itu banyak yang naksir. Mulai dari orang biasa hingga pejabat ditolak sama Mami. Pernah suatu kali, aku menyuruh Mami untuk menikah lagi, karena kasihan, biar ada temen buat bertukar cerita selain sama aku. Tapi ujung-ujungnya malah dimarahin.

Mami itu memiliki prinsip yang kuat. Menurutnya, menikah hanya dilakukan satu kali dalam seumur hidup. Setelah bercerai, Mami nggak mau mikirin soal menikah lagi, pengennya fokus ngasih kehidupan yang terbaik buat aku. 

Banyak hal yang udah dilakuin sama Mami, yang mungki  nggak akan  pernah bisa aku balas. Makanya, aku suka nggak terima kalau ada yang nyakitin beliau. Sekalipun itu Papiku sendiri. Rasanya pengen aku maki-maki deh, sayang aja aku belum pernah ketemu sama dia.

Setelah kegiatan madin selesai, aku langsung bergegas pulang. Aku masuk ke dalam rumah sembari mengucapkan salam. Kok tamunya nggak ada, ya, padahal mobilnya masih terparkir di depan.

Ada suara berisik dari arah dapur, membuatku penasaran. "Mas Kurir? Ngapain di sini?" tanyaku memastikan. Wuuuiiih, pasti udah sukses nih sekarang, kemana-mana bawa mobil.

"Benerin keran bocor, Mbak Ai. Tadi disuruh sama Mami." Aku mengangguk paham. Tiba-tiba Mas Kurir mencopot kaos yang dikenakannya sembari menatapku dalam-dalam.

"Eh eh, mau ngapain, Mas. Jangan macem-macem, ya, walaupun saya jomlo, saya nggak mau ya, ngelakuin hal begituan sebelum halal," sergahku padanya.

"Baju saya basah, Mbak, makanya saya copot," jelasnya. Ia pun mengibas-ngibaskan kaosnya, agar sedikit mengering.

Duh, jadi malu sendiri karena sempat mikir yang iya-iya tadi. Astagfirullah.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul bareng Mas Kurir di ruang tamu, dia ingin mengajakku keluar untuk makan malam. Atas izin dari Mami, aku keluar bareng Mas Kurir ke warung makan lesehan pinggir jalan.

"Sekarang udah pindah kerja, ya, Mas? Soalnya, beberapa kali pesen barang, yang nganter bukan kamu," tanyaku memecah keheningan.

"Kamu kangen, ya?" Tanyanya padaku.

"Yeee ... ditanyain malah balik nanya," sanggahku.

"Iya, sekarang aku udah naik jabatan, Ai, jadi kerjanya di kantor pusat," jelasnya. "Eh, boleh kan, aku manggil nama aja? Biar akrab gitu," lanjutnya.

"Asal jangan dipanggil Painem aja, Mas," jawabku.

Aroma nasi goreng pun menguar, membuatku yang doyan makan ini semakin keroncongan, mana bunyinya keras banget lagi. 

"Sabar, ya, bentar lagi," bisik Mas Kurir. Imageku sebagai wanita elegan, sepertinya luntur seketika.

Komentar

  1. Duh duh kepincut sama mas kurir ya ini? hehe

    BalasHapus
  2. xixixixi....lucu nih.ceritanya. lanjut ah

    BalasHapus
  3. Mas Kurir, .... 😃kayaknya seru orangnya. Nasir Ai apa mamanya nih?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Takdir Aina (8)

Nasihat Simbah

Gara-gara Barang Diskonan