Jalan Takdir Aina (2)
Lantunan ayat-ayat suci dari musholla depan gang rumahku menggema. Setiap bakda salat asar, anak-anak komplek akan mengaji di situ. Sudah sebulan ini, aku diminta Ummi Hanif untuk mengajar anak-anak, setelah Mbak Lathifah–anak ummi diboyong oleh suaminya ke negeri seberang.
Setelah selesai mengaji, aku membiasakan agar anak-anak membereskan tempat terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Agar semuanya tampak bersih dan rapi seperti sedia kala.
Sesampainya di halaman rumah, terlihat Mami lagi ngobrol sama someone di ruang tamu, yang tak lain dan tak bukan adalah Mas Kurir!
"Assalamualaikum, Anak Shalihah pulang, Mom," ucapku seraya mencium tangan Mami.
"Belum halal, Neng. Jangan cium-cium," cegah Mami, saat aku spontan mau mencium tangan Mas Kurir juga. Dasar, tangan nggak bisa diem juga, kalau lihat yang bening-bening mah. Astagfirullah.
"Ya udah, Mami tinggal ke dapur dulu, ya, takut nasinya gosong, karena dicuekin," pamit Mami.
"Itu mah, bukan cuma dicuekin, tapi juga ditinggal pas lagi sayang-sayangnya," sanggahku.
"Nggak usah curhat, Ai," sahut Mami seraya menggetok kepalaku dengan gagang penggorengan.
"Udah lama di sini, Mas?" Tanyaku pada Mas Kurir.
"Nggak kok, baru aja, Ai. Nih, paketmu," jawabnya sembari memberikan dua paket sekaligus.
"Mas panggil pakai sebutan Ai, jadi berasa dipanggil Ayang deh," tuturku dengan salting. Pakai dibalas senyuman lagi, kan aku jadi makin salting, Mas!
"Iya, bentar lagi, dipanggil dengan sebutan Ayang, kok," tuturnya lalu berpamitan. Duh, Hobby banget, bikin spot jantung anak orang aja sih, Mas!
***
Hari ini, mumpung weekend, aku mau jogging di alun-alun Blora. Biar lemak-lemak di tubuhku hempas seketika. Jangan tanya, sama siapa, ya, yang pasti sendirian. 'kan masih jomlo!
"Mau kemana, pagi-pagi gini, Ai?" tanya Mami saat melihatku keluar kamar dengan memakai pakaian olahraga.
"Mau mancing, Mam," jawabku dengan asal. Lhah udah jelas, pakai pakaian olahraga. Masih ditanyain mau kemana.
"Mancing masalah? Duh, tobat, Nak, tobat. Jangan cari penyakit, deh."
"Nggak usah drama deh, Mam, jelas-jelas Aina yang cantik dan sexy ini mau joging. Bye, Mami," pamitku seraya mencium tangan Mami.
Setelah pemanasan, Aku mengitari alun-alun dengan lari-lari kecil. Baru sekali putaran, aku udah tergoda sama Mamang pinggir jalan. Eh, bukan tergoda sama orangnya, ya, tetapi sama gorengannya. Fix, salah tempat jogging, ini aku.
Bug!
Aku pun terjatuh, lututku terasa sakit, karena terbentur pembatas jalan.
"Duh ... kalau jalan lihat-lihat, dong! Saya jadi jatuh, 'kan!"
Bersambung....
jatuh nabrak paket kayaknya ini
BalasHapus